Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – “Seorang gadis buruk rupa dinikahi oleh seorang buta. Pada suatu hari ada orang yang dapat menyembuhkan kebutaanya. Namun dilarang oleh mertuanya bahkan istrinya juga. Mereka khawatir jika si buta bisa melihat maka ia akan mencampakkan istrinya”.
Ceritera yang ditulis Anthony De Melo (seorang spiritual jesuit dari India) memiliki makna dalam dan relevan bagi kaum mapan dan nyaman yang enggan melakukan perubahan.
Mengapa perubahan sulit atau enggan dilakukan? Mungkinkah takut jelek dan busuknya? atau merasa kalau berubah menjadi tidak nyaman? atau jika anak buah pandai akan semakin susah diatur, jadi dibiarkan tetap bodoh?

Cara-cara bekerja manual, parsial memang bisa menggunting dalam lipatan atau malah lipatan menelan guntingnya.
Semakin modern, akan semakin terang benderang membukakan mata dana mampu melihat berbagai ketimpangan dan penyimpangan.
Membiarkan tetap bodoh, mempertahankan kebutaan adalah cara aman dan nyaman agar terus bisa pat gulipat semua dia yang dapat. Orang banyak semakin terjerat dan lama-lama menjadi sekarat.
Kebutaan, kebodohan bisa dibukakan matanya, dipandaikan pemikiranya salah satu akselerasinya adalah dengan teknologi. Segala akselerasi tatkala tanpa sistem on line, tanpa target pelayanan prima, itu sama saja dengan membiarkan tetap buta dan bodoh.[CDL-25072016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







