Masuknya “Nyepi” di Indonesia

TRANSINDONESIA.CO – Indonesia merupakan negara kepulauan yang letaknya strategis, berada di jalur pelayaran yang menghubungkan negara-negara barat dan timur. Berlabuhnya kapal-kapal dagang berbagai bangsa membuat masyarakat Indonesia  tidak dapat menghindar dari pengaruh luar.

Faktor lainnya adalah alam, seperti pola angin musim yang berubah setiap enam bulan sekali,  yang memudahkan kapal-kapal dagang itu singgah di Indonesia dalam waktu cukup lama.

Hubungan dagang antara indonesia dan india di awali sejak tahun 1 Masehi. hubungan perdagangan ini di ikuti pula dengan  hubungan kebudayaan seperti agama, sistem pemerintahan, sosial dan budaya sehingga terjadi percampuran kebudayaan di antara dua negara tersebut. Hubungan ini membuat bangsa indonesia mengenal agama Hindu dan Buddha.

Agama Hindu (disebut pula Hinduisme), merupakan agama dominan di Asia Selatan, terutama di India dan Nepal yang mengandung aneka ragam tradisi, agama ini meliputi berbagai aliran, di antaranya Saiwa, Waisnawa, dan Sakta serta suatu pandangan luas akan hukum dan aturan tentang “moralitas sehari-hari” yang berdasar pada karma, darma, dan norma kemasyarakatan.

Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi

Agama Hindu termasuk dalam kategori “agama tertua” di dunia, yang masih bertahan hingga kini, dan umat Hindu menyebut agamanya sendiri sebagai Sanātana-dharma, artinya “darma abadi” atau “jalan abadi” yang melampaui asal mula manusia. Agama ini menyediakan kewajiban “kekal” untuk diikuti oleh seluruh umatnya, tanpa memandang strata, kasta, atau sekte seperti kejujuran, kesucian, dan pengendalian diri.

Para ahli dari Barat memandang Hinduisme sebagai peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri.

Pangkal-pangkalnya meliputi Brahmanisme (agama Weda Kuno), agama-agama masa peradaban lembah Sungai Indus, dan tradisi lokal yang populer.

Sintesis tersebut muncul sekitar 500-200 SM, dan tumbuh berdampingan dengan agama Buddha hingga abad ke-8. Dari India Utara, “sintesis Hindu” tersebar ke selatan, hingga sebagian Asia Tenggara. Hal itu didukung oleh Sanskritisasi.

Sejak abad ke-19, di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi (saat istilah “Hinduisme” mulai dipakai secara luas), agama Hindu ditegaskan kembali sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen. Pemahaman populer tentang agama Hindu digiatkan oleh gerakan “modernisme Hindu”, yang menekankan mistisisme dan persatuan tradisi Hindu.

Praktik keagamaan Hindu meliputi ritus sehari-hari seperti puja (sembahyang) dan pembacaan doa, perayaan suci pada hari-hari tertentu, dan penziarahan.

Susastra Hindu diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu, Sruti (apa yang “terdengar”) dan Smerti (apa yang “diingat”). Susastra tersebut memuat teologi, filsafat, mitologi, yadnya (kurban), prosesi ritual, dan bahkan kaidah arsitektur Hindu.

Hari Raya Nyepi.[Dok]
Hari Raya Nyepi.[Dok]
Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan pinanggal apisan Sasih Kadasa, atau tanggal pertama atau kesatu, bulan ke sepuluh dalam Kalender Hindu.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi, Tidak ada aktivitas seperti biasa.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya.

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya, pada hari itu suasana seperti mati, tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari itu umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua, Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

Penulis: Eka Agus Setiawan [Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]

Share
Leave a comment