Afif ala koboynya menembak membabi buta dalam serangan teroris di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016).
TRANSINDONESIA.CO – Pengeboman dan aksi baku tembak antara teroris dengan polisi di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin pada Kamis (14/1/2016l), secara singkat dapat ditangani tanpa banyak jatuhnya korban tidak lain karena peran semua aparat kepolisian, TNI dan Densus 88 Polda Metro Jaya.
Meski demikian peristiwa bom Sarinah berkembang secara produktif di media masa maupun masyarakat baik penilaian plus minus maupun gosip dan halusinasi serta tokoh heroik dibalik penumpasan teroris bom Sarinah terus berkembang.
Untuk itu Kampus Universitas Bhayangkara Jaya (UBJ), di Jalan Raya Perjuangan, Bekasi Utara (samping Sumarecon), besok Rabu (20/1/2016), menggelar diskusi mengenai bom Sarinah sekaligis konsolidasi psikologi dan kebatinan publik untuk melawan terorisme, yang ditunjukkan lewat tema “Aku Tidak Takut Teroris”, dengan topik “Teror Bom di Indonesia: Database dari Bom Bali I hingga Bom Sarinah”.

Sementara yang kurang produktif seperti “polisi kecolongan” dan berbagai spekulasi, analisis tak berdasar, rumor, gosip, dan halusinasi.
“Kami merasa perlu menyampaikan press release terkait dengan isu-isu di atas. Concern adalah strategic think tank yang kegiatannya antara lain membantu pengembangan kemampuan SDM kepolisian. Kasatgaswil Densus 88 Metro Jaya dan Banten Kombes Pol Urip Widodo adalah associate Concern. Begitu pula dengan anak-anak buahnya, termasuk AKBP Untung Sangaji dan IPDA Tamat Suryani,” kata Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional, UBJ dan Patron, Concern strategic think tank, Prof Ris Hermawan “Kikiek” Sulistyo, Ph.D, Selasa (19/1/2016).
Menurut Kikiek, “kedua tokoh heroik” bom Sarinah bekerja di bawah kendali Kasatgaswil Densus 88 Metro, yang bertanggungjawab kepada Ka Densus 88 Mabes Polri dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Dr Tito Karnavian, yang kebetulan juga mantan Ka Densus 88 dan puncak hierarki pada Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.
“Jadi, sepanjang yang saya ketahui, mereka semua bekerja sistemik dan tidak ada istilah “kecolongan,”karena masih terdapat beberapa bom yang belum sempat diledakkan karena terduga teroris keburu ditembak. Selain itu, saya juga mengetahui (karena mereka dalam asuhan saya), tidak ada skenario politik, ekonomi, atau apapun selain keamanan,” kata Kikiek.
Tentang info dari AKBP Untung Sangaji lanjut Kikiek, bahwa ada dua pelaku yang melarikan diri.
“Setelah kami lakukan cross-checking dengan yang bersangkutan, ternyata tidak benar. Yang bersangkutan telah klarifikasi bahwa pandangannya tertutup oleh commotion massa, sehingga tidak begitu jelas terlihat apa yang berlangsung,” katanya.
Sekarang ini kata Kikiek, perburuan besar-besaran terhadap jaringan teroris di seluruh Indonesia tengah berlangsung.
“Marilah kita dukung mereka dengan tidak membuat kegaduhan informasi yang bercampur dengan halusinasi para pengamat terorisme yang ingin membangun kisah-kisah fiksi sinetron. Lebih baik kita percaya pada kerja forensik Polri,” ujarnya.(Yan)







