Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Kebahagiaan adalah rasa yang tidak tergantung dari fisik, materi, posisi/jabatan, kedudukan maupun status sosial bahkan juga ketenaran. Setiap orang dapat menentukan tataran atau tingkat kebahagiaannya seperti apa dan sejauh mana ia bisa menikmati dan mensyukuri.
Bisa saja seseorang yang semua serba kekurangan, dari fisik, materi, status sosial hingga hidupnya serba dalam keterbatasan bahkan didiskriminasi sekalipun, ia tetap berbahagia.
Pertanyaannya mengapa dia bisa berbagia? Karena dirinya mampu menikmati apa yang dia miliki, mensyukuri atas segala yang ada bahkah dari segala kekurangan dan kecacatanyapun mampu ia syukuri.

Maka akan berbeda juga dengan orang yang semua ada dan berkelebihan, dari fisik, pangkat jabatan, kekuasaan, ketenaran, kekayaan berlimpah tetap tidak bisa menikmati.
Hidup penuh dengan kekhawatiran, penuh iri dengki, penuh rasa kekurangan, tidak mampu memberdayakan yang ada. Mengeluh, merasa kurang, merasa tidak nyaman bahkan dengan apa kelebihannya tidak membawa manfaat atau berkat bagi sesamanya.
Tidak ada saat-saat menikmati hidupnya diganggu dengan kepentingan-kepentingan dan keinginan tidak ada rasa cukup dan syukur, yang semuanya hanya sebatas di mulut.
Kebahagiaan adalah buah sesuatu, bukan sesuatu. Buah sesuatu adalah proses, perjuangan, kepekaan, kepedulian dan bela rasa dengan sesama. Hidup tanpa manfaat hampa bagai tanpa guna, perasaannya diliputi rasa gundah gulana.
Rasa syukurpun menjadi hampa, menghamba pada dunia dan bisa saja lupa dengan sang pencipta yang Maha Kuasa. Kepercayaan dan keimananyapun tidak memberinya harapan, semua serba keduniawian, uang dan uang yang didewa-dewakan.
Padahal, itu semua hanya sarana penunjang. Sering orang mengatakan uang tidak penting tetapi pokok. Semua tatkala diukur dalam dunia atau keduniawian yang hedonis maka hidup penuh dengan ketidak bahagiaan.
Bahagia memang rasa, tidak bisa disentuh bahkan dikatakan secara utuh atau tepat. Berbahagia bisa dibuat tatarannya yaitu, tatkala hidupnya membawa manfaat dan menjadi berkat bagi sesama. Manusia sebagai mahkluk sosial keteraturan sosial pun bisa menjadi tataran kebahagiaan, tertib dirinya adalah kehidupan sesamanya.(CDL-10012016)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







