
TRANSINDONESIA.CO – Netral Institute (NI) desak Polda Jawa Timur (Jatim) memeriksa Bupati Lumajang, As’at Malik terkait pembunuhan Salim Kancil,46 tahun, aktivis penolak tambang pasir di pesisir Pantai Watu Pecak.
“Mestinya Polda Jatim bergerak cepat tidak hanya memeriksa tersangka atau saksi, tapi juga Bupati Lumajang sebagai pejabat daerah yang mengetauhi izin tambang tersebut,” kata Koordinator NI, Djoko Waluyo kepada Transindonesia.co di Jakarta, Senin (28/9/2015).
Sementara, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) meminta agar aparat penegak hukum menyeret siapa saja yang terlibat penganiayaan hingga tewas dengan cara keji oleh mereka yang mendukung tambang di desa Selok Awar-awar.
“Dia dianiaya beramai-ramai dengan kedua tangan terikat. Kemudian disiksa dengan dipukul menggunakan batu dan benda keras lainnya. Setelah meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan dekat area pemakaman,” jelas aktivis WALHI Muhnur Satyaprabhu dalam jumpa pers di Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9/2015).
Sebagaimana diwartakan, Salim tewas dianiaya pada 26 September 2015, merupakan petani yang menolak penambangan pasir di area yang diduga lahan Perhutani.
Tak hanya Salim, WALHI mencatat, seorang petani lainnya Tosan juga dianiaya hingga kondisinya kritis karena luka bacokan.
“Penolakan kegiatan penambangan sudah lama dilakukan. Mulai aksi di DPRD, pengaduan ke pemerintah daerah sampai pusat tetapi belum ada tanggapan. Sebaliknya mereka warga desa Selok Awar-Awar diintimidasi karena menolak penambangan di desanya,” jelas dia.
Kedua korban merupakan petani yang dari awal dengan lantang menolak penambangan pasir di desanya. Dikarenakan penambangan yang bisa berakibat kerusakan serta mengancam produksi pertanian di desanya. Kegiatan penambangan dilakukan awal tahun 2014, ketika warga diundang kepala desa untuk sosialiasi pembuatan kawasan wisata tepi pantai obyek wisata Watu Pecak. Namun tak pernah terealisasi, yang terjadi justru penambangan di area oleh sebuah perusahaan.
Sedangkan, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono menyatakan, terus mengusut tewasnya aktivis penolak tambang di Lumajang, Jawa Timur.
“Mungkin jumlah tersangka bisa bertambah dan berkurang, masih pemeriksaan secara intensif,” kata Argo.(Yan)






