
TRANSINDONESIA.CO – Sebesar apapun boneka tetap tidak memiliki jiwa atau roh yang hanya mainan disetir dan dikendalikan dari luar. Tatkala pemimpin tidak memiliki integritas, komitmen, kompetensi, prestasi dan capacity building tentu tidak mempunyai daya memperbaiki atau membangun karakter.
Apalagi mereka mempunyai dosa, salah masa lamapu yang dipegang kelompok-kelompok kepentingan atau kelompok mapan dan nyaman pasti akan terus menerus menjadi mainan dan tidak akan bisa netral.
Keberpihakan, balas budi, dan memberikan loyalitas yang membuahkan terlindungi atau langgengnya kelompok-kelompok kepentingan tadi.
Pemimpin boneka hanyalah simbol dan menjadi bahan mainan, mau tidak mau menuruti kemauan kelompok atau kepentingan. Yang tidak lagi terbendung adalah tak bisa netral dan tidak mandiri, bahkan akan melakukan diskriminasi.
Kebijakan pimpinan boneka mencerminkan kebijakan kepentingan, keberpihakan dan menunjukan sebagai bentuk loyalitas sebagai bentuk bayar budi. Menjadi boneka bisa juga karena ada kesalahan yang dijadikan nilai tawar atau pembanding yang menyebabkan tumpul dan lumpuhnya daya kritis bahkan nalar.
Kelompok kepentingan ini sudah menjadi mafia dan menggurita, saling melindungi, saling menguatkan untuk mempertahankan posisinya dan kenyamanan serta kemapanannya.
Pemimpin boneka didesign sedimikian rupa sehingga otak dan hatinya menjadi seperti apa yang diinginkan kelompok atau kepentingan.
Tatkala pimpinan boneka ini akan melawan atau membocorkan kondisinya maka, akan dihajar dan dibunuh karakternya, bahkan dilengserkan dari posisinya.
Pemimpin boneka akan penuh tekanan, ketakutan, tumpul dan lumpuh yang sama sekali tidak mampu bergerak dan berpikir hanya untuk selamat dan kepentingan yang telah mengaturnya.(CDL-Jkt090915)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana






