
TRANSINDONESIA.CO – Mengapa bisa diobok-obok? Ini tentu menjadi pertanyaan besar. Kalau dilihat dari pendekatan hubungan kekuaatan maka yang lemah yang dapat diobok-obok.
Mengapa lemah? Jawaban ini sangat kompleks namun setidaknya dapat dikarenakan ketidak profesionalan, model pemolisian yang konvensional-manual-sarat dengan potensi KKN, tidak berkarakter, keberadaanya dianggap sebagai pengganggu atau menjadi beban, takut menegakkan kebenaran dan keadilan (birokrasi yang patrimonial) yang core valuenya pada pangkat dan jabatan, petugasnya arogan-masa bodoh-tidak berempati, banyak penyimpangan dan pelanggaran, pelayanan yang buruk , Sulit melakukan perubahan atau ketinggalan zaman.
Dampak dari potensi-potensi yang membuat polisi lemah adalah label dan citra buruk yaitu ketidak percayaan.
Membangun polisi yang kuat dan tidak mudah diobok-obok memang harus segera dilakukan baik dikalangan internal maupun eksternal kepolisian antara lain: pemimpin, semua lini harus mampu menjadi ikon perubahaan, mampu bekerja secara professional-cerdas-bermoral-modern, keberadaanya aman menyenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat, mampu bekerja dengan tulus dan memberikan pelayanan prima (pelayanan cepat tepat, akurat, transparan, akuntbel, informatif dan mudah diakses), membangun kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan, produk kinerjanya diunggulkan dan menjadi kebanggaan.
Menjadikan polisi kuat memerlukan nyali yang besar, menabrak sarang kaum comfort zone dan kaum penjaga status quo.
Menabrak dengan membangun system-sistem online yang transpran dan akuntabel. Yang bernyali bukan pemimpinya semata melainkan seluruh anggota bernyali untuk mjd baik dan benar. (CDL-Jkt040915)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana





