
TRANSINDONESIA.CO – Musibah kabut asap yang menyelimuti Riau dan daerah propinsi lainnya sangat merugikan semua pihak. Sedangkan anggaran untuk mematikan titik api diduga dijadikan proyek.
Seperti berbagai komentar dan pendapat masyarakat dan pihak perusahaan, semakin meningkatnya hot spot akibat timbulnya kebakaran lahan dan hutan sempat menjadi teka-teki.
Mengingat anggaran dana pemerintah yang dikucurkan untuk Petugas Posko dan Karhutla khususnya di Riau, cukup banyak. Kenapa menjadi tingkat kebakaran Lahan semakin tinggi, bukanlah dampaknya semakin berkurang.
Hal ini dicetuskan warga masyarakat Bahri kepada TransIndonesia, Kamis (3/9/2015). Yang anehnya, salah seorang karyawan perusahaan besar di Asia Tenggara yang enggan disebut identitasnya menceritakan, bahwa pihaknya ketika ikut membantu penanggulanagn kebakaran di Peranap Indragiri Hulu.
Dikatakannya, api sudah mulai habis ditinggalkan tak lama kemudian api masih berkobar lagi diantara semak belukar.
“Koq bias secepat begitu. Padahal kami tinggalkan diloaksi cuma petugas Posko Karhutlah,” cetusnya heran.
Diminta oknum-oknum yang bertanggungjawab sebagai petugas penanggulanagan untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup Pelalawan Riau, Syamsul menjelaskan, pihaknya berupaya dengan memerintahkan anak buahnya untuk selalu berjaga-jaga mengantisipasi kebakaran lahan.
Sebelumnya, titik panas terbanyak ada di Jambi yaitu 250 titik, Sumatera Selatan 247 titik, dan Riau 164 titik. Kemudian Bangka Belitung 82 titik, Sumatera Barat 6 titik, dan Bengkulu 1 titik panas.
Khusus di Riau, dari 164 titik panas yang terdeteksi, 120 di antaranya diduga akibat kebakaran lahan hutan. Sementara sisanya 44 hanyalah titik-titik asap.
Lebih lanjut ia mengatakan, kabut asap yang menyelimuti Riau membuat jarak pandang pada pagi hari menjadi terbatas. Misalnya di Pekanbaru, jarak pandang hanya 1 kilometer.
“Daerah paling parah terkena dampak paparan kabut asap dari pantauan kita adalah Pelalawan dengan jarak pandang hanya menyisakan 800 meter,” ujar Syamsul.(Smn)







