
TRANSINDONESIA.CO – Benarkah demokrasi ditaburi benih kebencian akan membuahkan kekuasaan? Kekuasaan dalam demokrasi adalah kesadaran bagi yang mampu memimpin untuk mewaraskan, mengajak sehat, dan memberdayakan yang lemah atau lumpuh serta membuat kuat segala unsur dalam tata kehidupan.
Spiritnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Lagi-lagi demokrasi hanya sebagai lip service dan mulailah ajaran-ajaran, model baru dalam sistem-sistem uji coba diterapkan dan rakyat dijadikan kelinci percobaan.
Percobaan kepada rakyatnya bukan uji coba semata melainkan mengorbankan atau kalau tidak malah mematikan, melemahkan dan membutakan.
Primordialisme (SARA) tetap saja dihembuskan dan tidak berani diungkapkan sebagai biang konflik dan salah satu potensi ketololan jika diberdayakan sebagai label dan legitimasi solidaritas yang tidak rasional dan hanya penuh emosional yang berbasis spiritual semu.
Jabatan-jabatan menjadi ajang perebutan, kekuasaan menjadi simbol dari kekuatan dan sumber daya yang entah penyedotannya dari mana dan bagaimana caranya. Pemberantasan KKN yang tebang pilih dan penuh kepentingan dan dijadikan hantu bagi terus maraknya berbagai kelihaian kucing-kucingan dan menabur kebencian.
Sistem-sistem online, cara dan model elektronik belum menjadi idola, kesukaan parasial, manual dan konvensional, sebagai kebanggaan dan pamer atas kemampuan figur, struktur dan kultur KKN.
Pakar dan tokoh memberdayakan dengan kepandaianya membutakan dengan taburan benih konflik dan saling adu domba terus terjadi dimana-mana.
Demokrasi hanya lip service? Pameran seremonial, kepentingan supervisial dan bangunan semu dari upacara-upacara menjelang kematian suatu nation atas berbagai kemunafikan? Semua mungkin terjadi, benih-benih kebencian sudah ditabur, primordial dibiakan bagai diaspora. Tinggal menunggu kapan meledaknya? Yang ngalah, sudah ngalih dan siap ngamuk. (CDL-Jkt030615)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







