
TRANSINDONESIA.CO – Analogi dokter dalam mendiagnosa pasien dan memberikan obat dasarnya selain dari keluhan yang diceriterakan pasien. Fakta dan kondisi pasien adalah melalui hasil cek atau tes di laboratorium.
Dari data dan gejala yang ada barulah menentukan langkah-langkah pengobatan, dari yang paling ringan sampai paling berat (operasi sekalipun).
Analogi dokter menyembuhkan pasien ini semestinya menginspirasi atau diterapkan juga bagi para pemimpin atau para petugas yang bertanggung jawab menyehatkan, menata, mengatur, mengawasi atau mengontrol masyarakat.
Dengan demikian, langkah tindaknya bukan berdasar akal sehat atau asnjep (asal njeplak), asal berkeringat di lapangan dan menggungulkan dengkul.
Sekarang ini semua menyatakan ke lapangan, namun tatkala ke lapangan tidak membawa data, tidak menemukan gejala, tidak mampu menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sama saja buang-buang energi bagi pengobatan keteraturan social atau hanya semacam pemadam kebakaran yang tentu tidak mampu mencegah apalagi meningkatkan kualitas jelas tidak mampu.
Laboratorium sosial ini istilah sok-sokan saja bisa saja diganti sebagai back office atau apalah yang penting disini pola dan cara mengambil tindakan tidak asnjep atau terburu-buru bagai hendak ke toilet karena sudah di ujung tanduk.
Bisa dibayangkan apa jadinya kalau kebijakan gedan dapan seperti itu yang terus dimainkan dan dijadikan kebanggaan.
Membanggakan dengkul bukan salah, ke lapangan terus menerus juga bukan dosa, namun tanpa mampu mendiagnosa sama saja melecehkan otaknya.
Laboratorium sosial akan menjadi model bagi pembangunan sistem dan berbagai model atau gejala-gejala penyakit ataupun masalah sosial yang akan dianalisa dan bisa ditentukan pola2-pola atau cara-cara pengobatanya.
Menggeser keyakinan dari dukun ke dokter atau sebaliknya dari dokter ke penyembuhan alternatif juga sangat sulit.
Nah laboratorium sosiak ini (bisa sebagai back office) pendukung bagi pencegahan, perbaikan, peningkatan, pembangunan bahkan prediksi bagi masa depan. (CDL-Jkt260515)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







