
TRANSINDONESIA.CO – Orang baik dalam konteks membangun birokrasi adalah orang yang memiliki kompetensi, komitmen, dan ketulusan untuk membangun, memperbaiki, meningkatkan kualitas dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.
Orang baik disini dimaknai sebagai ikon perubahan atau ikon pembangunan. Seseorang yang dapat menjadi ikon karena memiliki prestasi yang dapat dan layak diunggulkan. Orang-orang baik dalam birokrsi yang ptrimonial biasanya malah disingkirkan atau bahkan dimatikan, karena dianggap duri dalam daging, tidak loyal atau dianggap keluar dari main stream walaupun benar.
Orang-orang baik tak jarang dibuat tidak kerasan, dibully, dirongrong bagai lomba panjat pinang, satu mendorong ke atas dan yag lain menarik ke bawah. Tidak akan pernah maju yang ada hanya saling tikam, saling serang diantara mereka.
Para tukang tikam, tukang serang, tukang bully adalah kelompok-kelompok preman birokrasi yang sudah amat menikmati situasi yang ada sebagai sudah merasa nyaman dan mati-matian mempertahankan status quo.
Tingkat kepremanan ini bertingkat tingkat dan cara-cara menjatuhkan dan membully mereka biasanya menggunakan media baik cetak, elektronik maupun sosial yang telah dibayar atau direkayasa.
Para preman-preman birokrasi ini berupaya untuk menguasai jalur-jalur sumber daya dalam birokrasi dan jalur-jalur fungsi pengawasan, maupun jalur penegakkan hukum.
Jalur-jalur itulah yang menjadi potensi tumbuh suburnya KKN. Para pejabat ditempat tersebut tak lain dan tak bukan adalah kader-kader preman-preman birokrasi. Yang mental dan otaknya sudah sehati dan sejiwa dengan patronnya atau yang menjadi god fathernya.
Jangan harap orang di luar klik atau di luar dinasti yang mereka bangun bisa masuk di jalur-jalur tersebut. Kalaupun bisa akan terus di rong-rong dan dijatuhkan kalau perlu akan dimatikany asekalian.
Bagaimana menemukan orang baik? Selama para penguasa dan para pemimpinya produk hutang budi dan menjadi kader preman birokrasi jangan harap mampu menemukan orang baik.
Orang-orang baik akan menghindr, menghilang sementara dan tidak bermunculan. Tatkala menginginkan menemukan orang baik dalam birokrasi maka harus ada pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik, maka akan mampu menemukan orang baik. Lagi-lagi pemimpin dengan kepemimpinan menjadi pilar dapat menjadi melakukan perubahan di semua lini.
Menempatkan orang baik sebagai pemimpin sama dengan melawan preman-preman birokrasi. Melawan preman birokrasi memang hampir-hampir tidak mungkin menang, kalau dianalogikan mereka (para preman birokrasi) bagai seekor naga yang luar biasa kuat karena memiliki, pangkat jabatan, kekuasaan, uang berlimpah, media, massa pendukung, jejaring yang menjadi tentakelnya dimana-mana.
Ibarat mencabut pohon yang sudah ngoyot (akarnya kemana mana) dengan tangan kosong. Jangankan tercabut bergerakpun tidak malah bisa-bisa tangan yang mencabu nglocop (terkelupas kulitnya) sendiri.
Namun dengan membangun sistem maka tanpa dipotong tentakel-tentakel itu akan terputus-putus sendiri. Tanpa dicabut akar-akar itu akan rungkat (tercabut sendiri).
Para kader dan jejaringnya akan lari tunggang langgang sendiri karena mereka bukan fighter tetap safety player, mereka bukan pemenang melainkan hanya pecundang.
Sistem yang dibangun adalah sistem-sistem online atau sistem elektronik. Walaupun tidak mudah namun dengan cara-cara online napas sang naga preman birokrasi akan semakin sesak, sarangnya akan semakin terkuak, topeng-topeeng yang mereka buat untuk memanipulasi dan menipu banyak orang akan terlepas.
Dengan perlahan tapi pasti telur-telur dan virus naga preman birokrasi akan mati dengan sendirinya. Ide atau wacana membangun sistem online atau sistem elektronik akan membuat sang naga tersengat dan mengeluarkan tanduknya untuk menabuh genderang perang. Meggeliat kesana kemari untuk menggagalkan.
Banyak orang baik namun tidak mendapatkan tempat karena sudah diduduki cantrik-cantrik sang naga. Selama sang naga dianggap sebagai pembawa berkah habislah sudah.
Apakah menemukan orang baik dalam birokrasi seperti menanti sang satria piningit (orang baik yang turun dari langit).
Tentu saja tidak. Memang niatan pemimpin untuk menemukan orang baik harus dibangun dan mulai disemai benih-benih agar bisa dipanen di masa yang akan datang.
Ide membangun sistem online atau sistem-sistem elektronik harus gencar di promosikan. Agar kita semua tidak bersatu padu memilih yang keliru, melainkan kita bisa sadar bangun dari mimpi buruk dan menjadi waras dari segala kegilaan yang sudah dianggap sebagai kebeneran dan diyakini kebenaranya.(CDL-271214)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







