
TRANSINDONESIA.CO – Tulisan ini terinspirasi sebuah pertanyan dari Kapolres Konawe, Sulawesi Tenggara, AKBP Barito.
“Sampai kapan kita menjadi pihak yang selalu “memaklumi” akan segala hal yang jelas keliru?,” katanya.
“Sampai kita sadar dan mampu keluar dari ketololan-ketololan yang selalu kita pamerkan dan bangga-banggakan,” jawab saya.
Jawaban saya ini terkesan sarkas, tetaoi kalau kita jujur mengatakan tidak seperti para pengikut “Raja Gila Pakaian” (baca, dongeng klasik HC Anderson), maka kita dengan jujur seperti anak yang dalam gendongan ibunya mengatakan, Raja telah gila berkeliing kota dengan telanjang.
Padahal para punggawanya dan rakyatnya mengelu-elukan keindahan pakaian Raja.
Mari kita kupas apa yang sebenarnya penuh kebohongan dan kepura-puran bahkan ketololan:
1. Kita selalu bangga dan membangga-banggakan kalau dipercaya menduduki jabatan “yang dianggap basah”. Hakikatnya, kita sebenarnya adalah pion dan selang sedot saja. Namun kita bergembira juga karena selang itu akan terus dialiri air dan selang itu juga banyak bocornya karena produk kolonial, konvensional yang tentu saja manual.
2. Kita selalu mengejar pangkat dan jabatan walaupun tanpa kompetensi. Selalu saja mengatakan, “Ah kan jadi penjabat banyak power dan cantrik-cantriknya kita tinggal pesan saja”. Artinya, ya hanya boneka yang diprogram atau dihidupkrn powernya oleh orang lain.
3. Pembangunan karier, atau pendidikan dengan pilar uang, jabatan dipetakan, masuk pendidikan menjadi lahan, rangking jadi acuan yang sebenarnya haya membagi dua digit dibelakang koma untuk dperebutkan puluhan bahkan ratusan siswa.
Posisi menentukan masa depan dan hidup serta kehidupan, maka semua seakan-akan bekerja degan harapan dan pengharapanya adalah mendapatkan uang. “Uang dan ya hanya uang persetan orang susah karena dirnya. Yang penting bagi dirinya bisa senang dan menang”. Semua menjadi bahn transaksionl (wani piro).
Nah, lagu Iwan Fas berjudul “Bento” ini sudah mengingatkan (siapa yang terharu?)
4. Rekrutmen menjadi bisnis “tunggangan diatas kuda” dengan berbagai spekulasi. Tatkala, dimasukan tanpa kompetensi, ini sama saja dengan silent suecide karena memasukan virus cancer bagi institusi. Menganggap masa rekrutmen sebagai pesta buka giling.
5. Bekerja selalu bersih menjadi cantrik para “ndoro-ndoro” penguasa supaya aman terlindungi hidup dan kehidupnnya.” Swargo nunut neroko endo” (saat jaya rela mbabu ketika bermaslah pasti ikut menghujat dan bahkan menjatuhkanya).
6. Kehidupan ala feodal dan kerajaan yang dibangun dinasti dan perkoncoan atau cocokcockan pada visi dan misi demi kejayaan kelompoknya dengan berbagai dalih demi ini-itu yang sebenarnya demi klik-klikan.
7. Berbagai kegiatan dalam kinerjanya sarat dengan sremonial, supervisial dan penuh kepura-puraan demi kebahgian dn kesukaan ndoro-ndoronya “asal ndoro seneng”.
8.Parahnya lagi, perkeliruan memang dipelihara dan ditumbuh kembangkan serta menjadi kembanggaan, bahkan yang lebih gilanya malah dijadikan tujuan kariernya (bagai orang mencari pesugihan).
9. Mematikan karakter orang dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pengusa, sehingga ada istilah pasang urut, saatnya ditebang dan saatnya turun.
10. Kepemimpinan gaya otoriter dan jaim yang sebenarnya hanya menutupi kelemahannya. Ingat anek dot beo “komandan yang sangat mahal walau tanpa kompetensi”.
11. Simbol-simbol yang dibuat lambang-lambang kekerasan, senjata dan berbagai hal yang tidak manusiawi.
12. Pelayanan publik yang dijadikan lahan “palak memalak dan transaksional, yang jelas lambat, dan birokratis yang banyak celah untuk disimpangkan.
13. Core valuenya yng aktual berbeda atau bertentangan dengan nilai-nilai ideal.
14. Kritis yang mengingatkan dan bersih memperbaiki dianggap sebagai benalu, dan dilabel tidak loyal, sehingga yang dibngun generasi babu-babu yang hanya pinter untuk menjilat.
15. Pola-pola kinerja bagai renng gaya katak, menyembah ke atas menyepak ke samping dn menginjak ke bawah,
16. Cara penggunaan bahasa “paling” yang selalu merasa paling benar, paling tahu, paling susah, paling berjasa yang memuakan banyak kalangan karena seolah narsis atau autis.
17. Cara memanusiakan yang aneh dengan cara-cara preman (melindungi, mengayomi dan melayani dengan membayar).
18.Hukum dijadikan pedang bermata 4 (depan,csmping kanan, sampingckiri bahkan handle nyapun tajam). Dimana pasal-psalnyapun semua bisa ditrasionalkan.
Banyak lagi yang secara sadar atau tidak, sering kita lakukan dan terus menjadi roh dan jiwa kita dalam melakukan kinerja.
Kita memang harus keluar dari ketidak sadaran harus tahu jalan keluar dari ketololan-ketololan itu. Harus memiliki keberanian murtad dari uang.
Kita perlu orang-orang yang mampu menjadi pemmpinnya, mampu membangun infrastruktur dan sistem-sistemnya. Diperlukan guru yang bisa menstransformasi dan menyadarkan, sistem penegakan hukum yang mampu memberi efek jera, dan SDM yang berkarakter sebagai agen-agen perubahan.
Kalau semua itu tidak diketemukan, maka tidak akan pernah ada kesadran apa lagi kewarasan.(CDL-SDH 270914)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







