Penyelidik Malaysia kini sedang menginvestigasi dugaan kesengajaan seseorang di kokpit mematikan sistem komunikasi dan mengalihkan MH370 dari rute yang ditentukan — menuju Beijing.
TRANSINDONESIA.CO – Data komunikasi antara satelit dan Malaysia Airlines MH370 dirilis Selasa ini, lebih dari 2 bulan setelah keluarga dari beberapa penumpang di pesawat nahas tersebut memintanya diungkap ke publik.
Pihak berwenang Malaysia mempublikasikan dokumen 47 halaman yang berisi ratusan baris komunikasi antara kapal terbang tersebut dan sistem satelit perusahaan Inggris, Inmarsat. Ditambah catatan, dari pihak perusahaan.
Sejumlah keluarga korban yang tak puas dengan penjelasan pihak Malaysia tentang nasib MH370 mengatakan, mereka akan mengirimkan informasi kompleks itu ke ahli dan analis independen.
“Umpan balik pertama yang kami harapkan adalah, apakah data tersebut terlihat benar adanya,” kata Sarah Bajc, yang partnernya, Philip Wood berada dalam pesawat yang hilang, seperti dimuat CNN, Selasa (27/5/2014). “Apakah data ini lengkap, seperti yang kami diarahkan untuk meyakininya.”
Beberapa pekan sebelumnya, Inmarsat mengatakan tak berwenang merilis data tersebut, mengalihkannya tersebut ke Malaysia — yang bertanggung jawab atas pencarian pesawat yang hilang lebih dari 2 bulan lalu. Baru minggu lalu, dua pihak mengumumkan upaya mereka untuk merilis data tersebut pada publik.
Sinyal satelit yang disebut “handshakes”– jabat tangan dengan MH370 adalah bagian dari data yang digunakan peneliti untuk mencoba untuk menetapkan keberadaan Boeing 777 yang hilang pada 8 Maret 2014, membawa serta 239 orang di dalamnya.
MH370 dinyatakan berakhir di Samudera Hindia sebelah selatan, jauh dari rute semestinya, Kuala Lumpur-Beijing.
“Inmarsat dan DCA telah bekerja untuk merilis data komunikasi dan analisi deskripsi,” demikian pernyataan otoritas penerbangan sipil Malaysia.
Sementara itu, pencarian dasar laut MH370 terus dilakukan di perairan barat Perth, Australia. Kapal selam robot Bluefin-21, yang dipinjam dari AS, masih dioperasikan melalui kapal Australia, Ocean Shield.
Bluefin-2, yang bisa mengidentifikasi objek dengan menciptakan peta sonar dasar laut memulai kembali misinya pekan lalu setelah sempat mengalami masalah teknis.
Robot tersebut diharapkan meningkatkan area pencarian pada Rabu esok dan kembali ke pangkalan pada 31 Mei 2014, kata sebuah pernyataan sebelumnya dari badan koordinasi pencarian Australia atau Joint Agency Coordination Centre.
Bluefin-21 akan menyelesaikan pencarian awal dari daerah di mana sinyal akustik yang dianggap berasal dari flight recorder terdengar. Pemerintah Australia saat ini sedang mempersiapkan upaya pencarian baru menggunakan peralatan yang dikontrak dari perusahaan komersial.(cnn/fen)







