Kesejahteraan petani di Sulawesi Tengah meningkat.(dok)
TRANSINDONESIA.CO – Tingkat kesejahteraan petani di Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai meningkat pada Pebruari dan Maret 2014 karena nilai tukar petani di atas 100 persen, kata seorang pimpinan Badan Pusat Statistik setempat.
Selama tiga tahun ini, kecuali pada kedua bulan itu, nilai tukar petani Sulawesi Tengah tidak pernah mencapai 100 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah JB Priyono.
Menurut dia di Palu, Minggu, nilai tukar petani Sulawesi Tengah pada Maret 2014 sebesar 103,24 persen, atau turun 0,05 persen dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan itu disebabkan oleh nilai tukar subsektor tanaman pangan 0,38 persen, subsektor hortikultura 0,99 persen, subsektor peternakan sebesar 0,47 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,49 persen.
Sedangkan nilai tukar subsektor tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 0,84 persen.
Hingga saat ini nilai tukar subsektor tanaman pangan tidak pernah mencapai 100 persen.
Priyono juga mengatakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani adalah nilai tukar usaha rumah tangga pertanian.
Pada April 2014, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian sebesar 106,24 persen atau naik 0,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Priyono menjelaskan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima terhadap indeks harga yang dibayar petani tanpa memperhitungkan pengeluaran konsumsi rumah tangga.
Nilai tukar usaha pertanian itu diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi petani terhadap pengeluaran selama proses produksi.
Pada data BPS disebutkan konsumsi rumah tangga petani di Sulawesi Tengah terjadi kenaikan pada kelompok bahan makanan (0,71 persen), perumahan (0,71 persen), kesehatan (0,51 persen), pendidikan dan rekreasi (0,14 persen), serta transportasi dan komunikasi (0,52 persen).
Sementara itu untuk harga bibit juga mengalami keaikan sekitar 0,27 persen selain upah buruh tani yang juga meningkat 0,24 persen.(ant/jei)







