Sebagian kecil masyarakat Sumut masih mengandalkan biji pinang sebagai mata pencarihan.(dok)
TRANSINDONESIA.CO, Medan – Nilai devisa Sumatera Utara (Sumut) dari ekspor biji pinang periode Januari hingga Maret 201s menurun 35,5% senilai US$ 1,993 juta dibandingkan periode yang sama ditahun lalu dengan nilai US$3,90 juta. Hal ini akibat berkurangnya permintaan dari negara buyer khususnya dari India.
“Diperiode Januari hingga Maret 2013 volume ekspor biji pinang masih sebanyak 14.465 ton dengan nilai devisa US$3,090 juta dolar, sementara periode sama tahun ini tinggal 2.160 ton atau senilai US$ 1,999 juta,” kata Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut Fitra Kurnia, di Medan, Kamis (17/4/2014).
Dijelaskan Fitra, menurunnya volume dan devisa ekspor komoditas itu bukan hanya disebabkan permintaan yang sedikit tetapi juga melemahnya harga jual yang disebabkan dampak krisis global.
“Penurunan ekspor paling besar terjadi ke negara India yang diduga karena importir negara itu memasok dari Thailand yang merupakan salah satu negara pesaing pinang Indonesia,” ujarnya.
Selain ke India, ekspor biji pinang Sumut ditujukan ke Pakistan, Bangladesh, China, Thailand dan Srilanka. Biji pinang itu merupakan bahan baku untuk industri farmasi, tekstil dan bahkan produk makanan/minuman.
“Di negara India termasuk Pakistan biji pinang dimakan seperti memakan permen,” katanya.
Pedagang pinang di Deli Serdang, Sugito, menyebutkan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya permintaan pinang dari pengekspor semakin menurun dengan dalih permintaan di pasar internasional sepi dan harga tren menurun.
Dia menyebutkan, harga jual bervariasi tergantung kualitas seperti besar atau sedang dan kecil, kekeringan buah hingga dalam keadaan utuh atau pecah.
“Padahal mencari pinang semakin susah karena tanamannya juga tidak banyak lagi karena masyarakat mulai malas bertanam pinang yang seperti komoditas lainnya sering mengalami fuktuasi,” katanya.
Buah pinang semakin jarang diperoleh karena pekarangan rumah di pedesaan juga semakin mengecil karena warga di desa juga lebih cenderung menjual dan memilih bekerja di pabrik.(dona)







