Guruh Soekarnoputra.(istimewa)
TRANSINDONESIA.CO, Jakarta – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Guruh Soekarnoputra tetap saja menyuarakan ketidak setujuannya atas langkah PDIP mencapreskan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi. Meski mengagumi Jokowi sebagai sosok yang baik dan calon pemimpin yang hebat, Guruh menilai, pencapresan Jokowi oleh PDIP terlalu dini.
“Dari zaman dulu saya bilang Pak Jokowi Insya Allah, ya orang kan bisa berubah-rubah. Pak Jokowi orang yang suka kerja, giat dan konsisten dibidangnya dari walikota sampai gubernur. Tetapi gubernur masih setengah jalan, masih waktunya baru 20 persen dari masa baktinya, dia belum menghasilkan signifikan,” ujar Guruh dalam acara diskusi di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (15/4/2014).
Guruh mengatakan, banyak ketidaksepahaman dirinya tentang para pemimpin bangsa sekarang. Khususnya terkait dengan konstitusi dan penyelewengan Pancasila sebagai dasar negara.
“Saya bicara sebagai warga negara bangsa yang membela Indonesia. Tanpa memandang partai, bahkan saya anggota partai itu sendiri,” ujar Guruh.
Guruh menilai konstitusi Indonesia sudah menyeleweng dari Pancasila dan UUD 1945. Ada campur tangan pihak asing yang sengaja membuat Indonesia menjadi negara liberal.
“Negara kita dalam keadaan memprihatinkan, punya konstitusi sekarang malah menyeleweng dari Pancasila. Induknya UUD 45 yang di amandemen Tahun 2002 banyak penyelewengan perubahan tentang struktur sistem negara berubah,” ujar dia.
Ia pesimis, dengan figur capres yang muncul saat ini. Dalam pandangannya, belum ada figur capres yang punya kemampuan untuk merubah kondisi tersebut, termasuk Jokowi.
“Capres yang punya wawasan kesadaran negara kita sudah menyeleweng. (Jokowi) saya belum melihat itu. Kita kan bisa melihat dari sikap-sikapnya,” ujar dia.(pi/fer)







