Bank Indonesia (BI). Transindonesia.co / Dokumentasi
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tumbuh 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga mencapai US$459,3 miliar. Peningkatan ini utamanya dipicu oleh lonjakan ULN sektor publik, di saat utang luar negeri sektor swasta justru mengalami penurunan.
“Pertumbuhan ULN pada Agustus 2026 terutama bersumber dari peningkatan ULN sektor publik, khususnya penarikan instrumen moneter dan investasi portofolio,” dikutip dalam laporan resmi Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Secara rinci, ULN pemerintah tercatat sebesar US$220,9 miliar atau tumbuh 3,3% yoy. Lonjakan utang pemerintah ini didorong oleh derasnya aliran modal masuk investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN), yang menandakan tingginya kepercayaan terhadap prospek dan stabilitas ekonomi nasional.
“Pemerintah berkomitmen menjaga kredibilitas pengelolaan utang dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga secara tepat waktu, serta mengelolanya secara pruden, terukur, dan fleksibel,” tegas BI terkait strategi pembiayaan pemerintah.
BI menjelaskan bahwa pemanfaatan ULN pemerintah diprioritaskan untuk mendukung sektor-sektor produktif. Alokasi terbesar disalurkan ke jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22%, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,7%), jasa pendidikan (16,2%), konstruksi (11,4%), serta sektor transportasi dan pergudangan (8,5%).
“Peningkatan ULN bank sentral juga didorong oleh kenaikan kepemilikan nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas otoritas moneter tersebut.
Berbanding terbalik dengan sektor publik, ULN swasta pada Agustus 2026 justru berkontraksi sebesar 0,8% yoy menjadi US$195,6 miliar. Penurunan ini terjadi baik pada kelompok perusahaan nonkeuangan (nonfinancial corporations) yang turun 0,8% yoy, maupun perusahaan keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 0,6% yoy.
“Sektor swasta yang menopang ULN didominasi oleh industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian yang secara kumulatif menyumbang 80,5% dari total ULN swasta,” papar laporan BI.
Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia—baik milik pemerintah maupun swasta—masih didominasi oleh utang jangka panjang sehingga risikonya tetap terkendali.
“Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan dan pengelolaan ULN agar senantiasa menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tutup BI. [sda]






