
TRANSINDONESIA.co | BANDUNG – Maraknya aksi kekerasan, perundungan (bullying), hingga tindakan intimidasi yang melibatkan anak-anak sekolah belakangan ini mengetuk rasa kemanusiaan kita semua. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk tumbuh kembang anak, kini dibayangi trauma akibat rangkaian insiden memilukan di berbagai daerah.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Anggota DPRD Jawa Barat sekaligus Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis Jawa Barat, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol., menyampaikan seruan hangat namun tegas agar seluruh pihak bergerak membenahi sistem pendidikan.
“Sekolah harus segera mengembalikan hakikat utamanya sebagai ruang tumbuh yang aman, inklusif, dan memerdekakan bagi setiap anak—bukan tempat yang menyemaikan ketakutan, luka, atau trauma,” tegas Syahrir ketika dikonfirmasi pada Sabtu (10/10/2026).
Fenomena kelam di dunia pendidikan ini bukan sekadar angka. Di Kota Bekasi, dugaan kekerasan verbal dan fisik oleh oknum pengajar di SMKN 1 Kota Bekasi pada Juli lalu menyisakan trauma berat bagi peserta didik. Tak kalah menyayat hati, insiden di Kabupaten Pemalang pada akhir September merenggut nyawa seorang murid SD berusia 7 tahun akibat perundungan teman sebayanya. Sementara di Garut, seorang pelajar SMA harus berjuang demi kesembuhan mata kirinya usai menjadi korban penembakan air gun oleh seniornya saat acara pertemuan alumni.
Sebagai tokoh yang aktif turun ke sekolah-sekolah dalam gerakan literasi, Syahrir menekankan pentingnya mengembalikan marwah pendidik serta membangun kembali kedekatan emosional dan etika antarpeserta didik. Menurutnya, pembenahan karakter harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi informasi.
“Perlu adanya perbaikan mendasar dalam proses belajar mengajar serta literasinya. Selain itu, kemajuan teknologi harus dapat diadaptasi dengan baik, namun penggunaan gawai dan media sosial tetap harus dimonitor serta dibatasi—khususnya konten-konten yang mempertontonkan kekerasan visual yang direkam oleh anak didik kita,” tambah politisi Partai Gerindra tersebut.
Melalui penguatan literasi digital dan pendekatan edukatif yang penuh kasih sayang, diharapkan sekolah-sekolah di Jawa Barat dan seluruh Indonesia dapat kembali menjadi rumah kedua yang aman, ramah, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa. [amh]





