
TRANSINDONESIA.co, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi basah berupa banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Rabu (25/3/2026). Data dari Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) menunjukkan Kabupaten Pasuruan, Brebes, dan Majalengka menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling signifikan.
“Bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir serta dampak cuaca ekstrem dan longsor, masih menjadi peristiwa yang paling banyak terjadi di sejumlah daerah berdasarkan data hingga pukul 07.00 WIB,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Dampak terbesar tercatat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, di mana banjir merendam sedikitnya 3.273 unit rumah pada Selasa (24/3). Meluapnya sejumlah aliran sungai akibat hujan lebat selama lebih dari dua jam memaksa BPBD setempat melakukan evakuasi warga dan mengaktivasi dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik ribuan jiwa yang terdampak.
“BPBD telah melakukan sejumlah penanganan darurat, mulai dari pemantauan dan bersiaga di lokasi terdampak, evakuasi warga, hingga pendistribusian bantuan logistik. Kondisi mutakhir melaporkan banjir kini mulai berangsur surut,” ungkap Abdul Muhari.
Sementara itu, di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, hujan lebat berdurasi lama memicu tanah longsor di wilayah dengan kontur tanah labil pada Senin (23/3). Bencana ini memutus akses transportasi secara masif, meliputi enam ruas jalan yang tidak dapat dilalui, tiga jalan penghubung desa yang terputus, serta satu jembatan yang ambruk, yang berdampak pada 11 desa di tiga kecamatan.
“Sedikitnya 11 desa di Kecamatan Lemahsugih, Malausma, dan Bantarujeg terdampak. Hingga Selasa, BPBD masih terus berkoordinasi dan melakukan penanganan di lokasi, dibantu masyarakat yang secara swadaya melakukan pembersihan,” jelasnya.
Di Jawa Tengah, angin kencang menerjang Kabupaten Brebes pada Senin malam (23/3), tepatnya di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan pada 10 unit rumah warga dan tujuh unit tempat usaha atau kios, yang memicu aksi kerja bakti massal antara BPBD, relawan, dan warga untuk membersihkan material sisa kerusakan.
“Mengingat potensi bahaya hidrometeorologi yang masih tinggi, terutama pada momen libur Idulfitri 2026, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem,” tambah Abdul Muhari.
Sebagai langkah antisipasi, BNPB menekankan pentingnya respons cepat terhadap peringatan dini, terutama jika terjadi hujan lebat berkepanjangan. Masyarakat diminta memanfaatkan jejaring komunikasi seperti grup WhatsApp dan radio HT yang dikelola aparat setempat sebagai mekanisme evakuasi mandiri yang efektif.
“Saat beraktivitas di luar ruangan atau berkendara dalam kondisi hujan deras dan angin kencang, masyarakat diminta menjauhi serta tidak berteduh di bawah pohon besar yang berpotensi tumbang demi keselamatan jiwa,” pungkasnya. [nag]






