Foto: Ilustrasi AI
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana alam yang melanda berbagai wilayah Indonesia pada awal Februari 2026. Hingga Rabu (4/2/2026) pagi, BNPB mencatat kejadian mulai dari tanah bergerak, tanah longsor, hingga banjir bandang yang mengakibatkan korban jiwa dan ratusan warga terpaksa mengungsi.
“Laporan peristiwa yang berhasil dihimpun sejak Selasa (3/2) hingga Rabu (4/2), pukul 07.00 WIB, mencatat sejumlah kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan, Rabu (4/2/2026).
Tragedi paling fatal terjadi di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Fenomena gerakan tanah atau tanah longsor menimpa area penambangan timah rakyat di Desa Pemali pada Senin (2/2) sore. BPBD setempat melaporkan tiga orang meninggal dunia, sementara empat orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan yang didukung alat berat.
> “BPBD kabupaten melaporkan tiga orang meninggal dunia dan empat orang lainnya masih dalam pencarian. Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian korban dengan dukungan tiga unit ekskavator,” ungkap Abdul Muhari.
Di Jawa Timur, banjir bandang menerjang Kabupaten Jember pada Senin siang, tepatnya di Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji. Bencana ini menyebabkan satu orang warga meninggal dunia dan memaksa puluhan jiwa mengungsi. Meskipun kondisi air dilaporkan telah surut pada Selasa (3/2), beberapa warga masih bertahan di rumah kerabat karena rumah mereka tergerus arus.
“Akibat peristiwa ini, satu warga meninggal dunia dan berhasil dievakuasi oleh tim SAR, sedangkan 30 jiwa sempat mengungsi ke rumah warga,” jelasnya.
Sementara itu, fenomena tanah bergerak skala besar melanda Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Sebanyak 470 jiwa terdampak di Desa Padasari akibat hujan intensitas tinggi di lahan miring. Kerusakan bangunan cukup masif, mencakup 12 rumah rusak berat dan lebih dari 500 santri harus dievakuasi ke titik pengungsian karena fasilitas pendidikan mereka turut terdampak.
“Hasil analisis BPBD menunjukkan potensi gerakan tanah masih tinggi di kawasan tersebut. Sebanyak 10 KK serta 526 santri mengungsi di dua titik,” tambah Abdul Muhari.
Di wilayah Sumatra Selatan, luapan Sungai Benakat merendam tujuh desa di Kabupaten Muara Enim. Banjir ini berdampak pada 1.892 KK, meski laporan terbaru pada Selasa menunjukkan debit air mulai berangsur surut. Secara nasional, BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD daerah untuk melakukan asesmen cepat dan penanganan darurat di setiap titik lokasi.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siaga. Beberapa wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BNPB meminta BPBD di seluruh provinsi untuk proaktif dalam menyampaikan peringatan dini. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana diharapkan segera melakukan evakuasi mandiri jika melihat tanda-tanda alam yang membahayakan guna menghindari risiko lebih lanjut dari ancaman hidrometeorologi.
“BPBD diharapkan dapat menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat apabila diperlukan evakuasi ke tempat aman guna menghindari bahaya banjir, banjir bandang, ataupun tanah longsor,” pungkas Abdul Muhari. [sda]





