Salah satu titik banjir terparah di wilayah Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Foto: BPBD DKI Jakarta.
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak Kamis (22/1/2026), menyebabkan sedikitnya 1.623 jiwa dari 585 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 20 kelurahan di 6 kecamatan terdampak banjir, dengan titik pengungsian tersebar di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara.
“Pemerintah memastikan kebutuhan para pengungsi tercukupi dengan menyiapkan kebutuhan dasar baik permakanan, pakaian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya selama di lokasi pengungsian,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Ahad (25/1/2026).
Hingga Ahad (25/1/2026) pukul 09.00 WIB, banjir di beberapa lokasi mulai surut, namun 13 RT di Jakarta Timur dan satu RT di Jakarta Utara masih tergenang dengan Tinggi Muka Air (TMA) antara 30 hingga 80 sentimeter. Kelurahan Kampung Melayu menjadi titik terdalam dengan TMA mencapai 80 sentimeter akibat luapan Sungai Ciliwung.
“BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan dan berkoordinasi dengan Dinas SDA, Bina Marga, serta Gulkarmat untuk melakukan penyedotan agar genangan surut dalam waktu cepat,” jelas Abdul Muhari.
Di Jakarta Timur, pengungsi terkonsentrasi di Kelurahan Cawang, Bidara Cina, dan Kampung Melayu dengan titik terbesar di SDN Kampung Melayu 01 dan 02 yang menampung 250 jiwa. Sementara di Jakarta Barat, persebaran pengungsi mencakup wilayah Rawa Buaya, Kembangan Selatan, Kembangan Utara, dan Duri Kosambi, di mana SDN 07 Rawa Buaya menampung hingga 230 jiwa. Adapun di Jakarta Utara, pengungsi terdata di Kelurahan Kapuk Muara sebanyak 97 jiwa.
“Hingga 29 Januari 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan intensitas ringan hingga lebat. Perlu diwaspadai potensi peningkatan hujan di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Papua,” tambahnya.
Menghadapi situasi ini, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan memperhatikan langkah keselamatan, seperti mematikan aliran listrik saat air mulai masuk ke hunian. Warga diminta terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang guna melakukan evakuasi mandiri jika diperlukan.
“Masyarakat diimbau memperhatikan langkah-langkah keselamatan, segera matikan aliran listrik, dan ikuti instruksi pihak berwenang untuk evakuasi jika diperlukan,” pungkasnya. [chy]
