Ilustrasi - Foto: AI
TRANSINDONESIA.co | Kisah wayang semestinya dimainkan oleh dalang. Ada bagian lucu karena dalangnya aneh dan para wayang mentertawakan dalangnya. Bukan menghibur diri melainkan dampak dalang yang tak tahu diri.
Para Ponokawan mengajak kita kritis dan memberi pencerahan kepada sang dalang. Dalam guyon maton maupun guyon parikeno yang biasanyadisuarakan dalang namun karena dalangnya koplo logikanya koprol. Para Ponokawan (Semar, Gareng/Udel, Petruk/ Dawala, Bagong/ Cepot, Limbuk, Cangik, Togog, Mbilung, Sorowito,Tualen, Sangut, Merdah dll) digambarkan orang orang biasa, kaum bolo dupak terpaksa menertawakan sang dalang.
Mereka berdialog atas kehidupan sosial sehari hari para dalang yang tak lagi mampu memberi pesan moral. Dalang mengambil kebajikan yang tidak lagi bijaksana. Asjep, asal njeplak merefleksikan kecerdasan dalang dalam titik nadir dialog goro goro yang penuh canda tawa, mbat mbatan yang diembat malah dalangya. Tak lagi sarat makna. Sulit memahami apa yang terjadi.
Hanyalah gerundelan para Punokawan, yang malah lebih piawai mengolah berbagai ungkapan untuk mengkritik atau mengkritisi para dalang yang tidak sesuai atas keutamaannya dan kebijakan yang koplak membuat setres. Dalang ditertawakan wayang aneh para wayang, punggawa dan Sindennya harus berhati hati kalau mentertawakan dalang agar tidak dituduh subversif atau makar.
Dalang yang mudah marah, tersinggung dan baeran akan ngamuk: membredel, memblack list atau cara digunakan untuk membunuh karakter.
Guyonan para punokawan dalam goro goro untuk mentertawakan dalang bisa saja dimanfaatkan untuk kepentingan politik maupun propaganda, mempromosikan, mengkampanyekan bahkan menghakimi ala asu gede menang kerah e.
Dalang yang koplak menuding wayang memihak, ditunggangi pihak lain. Menyatakan wayang sebagai kendaraan yang digunakan menyerang dalangnya
Dalang di masa kelam, seperti rezim naperan, ngamukan sebentar sebentar marah bisa membredel,menangkapi, memenjarakan wayang ke dalam kotaknya. Ini dalang yang sifatnya seperti celana yang gampang sobek, dibuat jongkok sobek, kentut terlalu keraspun sobek. Tentu saja membuat para wayang trauma untuk kreatif dan inovatif, di sinilah wayang mengajak mentertawakan dalangnya.
Wayang akan penuh kekawatiran, jangan jangan disobek sobek oleh dalangnya sendiri. Ini semua merefleksikan penguasa muntah muntah tapi malah rakyatnya diperiksa bahkan bisa dipenjara.
Guyon maton dalam goro goro yang mengajak mentertawakan dalan tidak bisa dengan cara siap grak tertawa grak, diam grak. Para penonton itu manusia, yang punya jiwa dan rasa, bukan mesin atau robot yang tertawanya bisa dikendalikan. Dalam kisah goro goro mentertawakan dalang walau penuh resiko dan ketakutan tetap akan dinantikan dan dirindukan
Ayo ngguyu …. yen ngguyu mas ojo seru seru. Lagu ayo ngguyu ini mengingatkan bahwa tertawa itu membuat bahagia dan merupakan penggeli hati. Tertawa bukan karena tanpa sebab. Tertawa tanpa sebab dapat dikatakan kurang sesendok kewarasanya dipertanyakan. Tertawa dalam guyon goro goro kaerna ada sesuatu yang lucu. Kelucuan dari perilaku para dhalang dan pendukungnya yang koplak eayang akan tetap dikalahkan dan disalahkan.
Wayang dijadikan obyek mbat mbatan, yang memamerkan ketololan dalangya. Tertawa dalam dialog mbat mbatan bisa saja karena ada yang dijadikan korban untuk bulan bulanan atau dibuli dalam suatu dialog.
Dalang waras seperti alm Seno Nugroho dengan Sinden Tatin atau dengan Sinden Elisa. Alm Dalang Enthus Susmono dengan Sinden Megan atau dengan sinden Ciblek dsb.Plesetan atau parodi atau sindiran atau yang menjungkirbalikkan logika seperti kisah Slenteng dan Lupit dsb. Kejujuran keluguan pun dapat menjadi stimuli orang untuk tertawa.
Tertawa bisa saja melihat mendengar atau merasakan sesuatu yang aneh atau tidak lazim. Politik, ekonomi sosial budaya ideologi bahkan hal hal akademik pun bisa menjadi stimuli penggeli hati.Tertawa dalam goro goro bukan tertawa karena ikut ikutanan tanpa tau sebabnya apa. Bukan juga tertawa yang dipaksa atau diancam untuk tertawa.
Lagu ayo ngguyu mengingatkan kita kalau tertawa ojo seru seru. Karena kalau seru ( keras) maka akan saru ( tidak pantas) namun kadang kala kalau tidak saru angel dijak ngguyu. [CDL]
