Skip to content
9 Mei 2026
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
cropped-trans_logo-e1607181917765-1.png

Indonesia Berdakwah

Primary Menu
  • TRANS DAKWAH
  • TRANS METROPOLITAN
  • TRANSPOLHUKAM
  • TRANSDUNIA
  • TRANSBISNIS
  • TRANSSPORTS
  • TRANSTEKNO
  • TRANSMARITIM
  • TRANSSUMATERA
  • TRANSJAWA
  • TRANS BALI
  • TRANSNUSA
  • TRANSKALIMANTAN
  • TRANSSULAWESI
  • TRANSMALUKU
  • TRANSPAPUA
Light/Dark Button
  • Home
  • 2026
  • Januari
  • 1
  • Rumput Tetap yang Terinjak-injak?

Rumput Tetap yang Terinjak-injak?

transindonesia.co 1 Januari 2026 6 minutes read 0 comments
Rumput Tetap yang Terinjak

Ilustrasi - Foto: AI

TRANSINDONESIA.co | JAKARTA – Gajah mau bercinta atau berantem tetap saja rumput yang terinjak injak. Rakyat tetap korbannya atas kejumawaan, ketamakan yang penuh amarah kaum di atas menara gading. Seakan pungnak pungno, mumpung enak mumpung ono, gaspol jangang kasih kendor seolah los stang, ora minggir ditabrak. Kaum seperti itu akan selalu

Rumongso Biso, ananging Ora Biso Rumongso. Merasa bisa, serba tahu dan merasa paling benar tetapi tidak bisa berkaca diri, kalau kebiasaannya hanyalah mencari kesalahan dan menyalah-nyalahkan.

Jegal menjegal berebut kuasa dan kekuasaan seakan tiada lagi etikanya, semua dilegalkan, trik dan intrik dengan hembusan isu kebencian dan fitnah, menjadi aroma khas politik dan perpolitikan. Parahnya lagi dianggap dan dipuja sebagai suatu kebanggaan. Perebutan kekuasaan maupun kursi jabatan semua cara dihalalkan. Tatkala berkuasa bagai dewa, tatkala kuasa tiada seperti orang gila.

Media sosial, cetak maupun elektronik, menjadi sarana ampuh kaum licik dan lihai di bidang jegal-menjegal. Kaum-kaum ini memang otak, otot, dan hatinya dikerahkan untuk memperkeruh dan mengadu domba. Kaum yang menabur benih-benih kebencian, memprovokasi, dan memanfaatkan kesusahan banyak orang demi diri dan kroni-kroninya. Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah, itulah motto dan prinsip hidupnya.

Kaum ini selalu rumongso biso, merasa sebagai pahlawan walau kesiangan, penuh kemunafikan, serta memperjuangkan kesesatan. Jabatan dan kekuasaan memang sebagai power roh dan jiwanya untuk menguasai sumber daya dan pendistribusiannya. Gaya kolonial, gaya-gaya dewa uang yang bertabur harta serta kemewahan, di atas kesusahan dan penderitaan banyak orang.

Ketika berkuasa, dia bagaikan dewa yang merajai dengan uang. Kaum ini hilang kepekaan dan kepeduliannya pada kemanusiaan dan kehidupan. Bagai raja midas yang gila emas, bagai Don Kisot yang penuh khayalan ketakutan kehilangan jabatan beserta privilage-nya. Kaum ini mendeklarasikan diri sebagai sang penjaga dan penyelamat, walau semua itu hanya tipuan belaka. Semua dikemas melalui apa saja yang bisa dibelinya.

Tatkala ada kuasa merasa menjadi dewa tatkala tiada kuasa atau mendapatkan perlawanan bagai orang hilang jiwanya. Kewarasannya karena ingin ada kuasa. Kendali diri hilang kepandaiannya, power-nya dikuasai kebencian yang dibungkus pembenaran. Prof Marcus Priyo Gunarto menganalogikan kisah Pastor Tom Jacob yang saat menaiki angkutan umum, penumpang lainnya berkata :” Londo Asu tenan iki ora tahu adus” (belanda anjing ini tidak pernah mandi . Pada saat pastor Tom Jacobs akan turun dengan sikap serius mengatakan: “nyuwun sewu asune bade liwat” (mohon maaf anjingnya akan lewat).

Kaum yang sedang mapan dan nyaman tentu ora biso rumongso memiliki keanehan keyakinan yang memandang orang lain bodoh, tidak pantas, layak difitnah dan dihakimi. Kepura-puraan nya bagai musang berbulu domba. Jalan gelap yang dicarinya, kebanggaan semu yang dipujanya.

Jegal menjegal dalam perebutan kekuasaan dan penguasaan sumberdaya yang penting menang, yang penting senang. Tak jarang dibumbui primordialisme untuk mencari legitimasi dan solidaritas, segala cara dihalalkan untuk menjegal lawan lawannya. Di sinilah kaum yang hanyut dalam primordialisme seakan kehilangan akal budinya, yang hanya mengedepankan emosional dan spiritual.

Seakan teriakannya berkata: ndi Celeng e? 

Entah salah apa, entah salahnya di mana pokoke salah.

Menjaga kewarasan dan daya nalar tidak harus ngegas dengan hinaan ataupun dengan cara  kasar. Mengkritik, yang dikritik tidak marah dan mau merubah, ini cara para karikaturis, sastrawan, pelawak, bahkan kaum terpelajar yang membuat quoete, lucu lucuan menertawakan pameran ketololan. Memang tidak harus baperan, nesu lalu terus mengothak athik gathuk mencari kesalahan dan menyalah-nyalahkan. menyerang, menyindir, memprovokasi, mengadili suatu kejumawaan. Rumongso biso bisa menjadi intropeksi diri. Keras dalam prinsip santun dalam penyampaian. Kata kata Jack Ma: “kalau kamu belum kaya dan terkenal, kata kata mutiaramu bagaikan kentut. Kalau kamu kaya dan terkenal kentutmu menginspirasi”.

Ada suatu kisah di gerbong kereta kelas super ekonomi jaman dulu yang panas dan suk sukan. Tiba tiba ada yang teriak ” iki mesti entut e celeng, ambune koyo kabel kobong, sangit tengik”. Tiba tiba ada yang menyahut dengan suara lembut: “oalah entut, entut ….kon ndang minggat mentu jendelo kok ndadak mampir nang irunge asu”.

Kritis dan keras dalam prinsip untuk mewaraskan juga diperlukan agar kaum kebanyakan tidak selalu dikorbankan atau dijadikan tumbal.

Rakyat memang tidak punya apa apa namun bisa melakukan apa saja, sekalipun para ndoro bangga dengan gaya “Asu gede menang kerah e (hukum rimba, siapa kuat dia menang)”.

Rakyat punya cara sendiri, sekalipun dianggap lemah mereka punya harga diri “Ojo nyusu celeng (jangan berguru pada celeng)”. Karena Celeng itu degleng analogi ndoro jumawa, tamak dan lupa diri.

Para ndoro yang lupa diri biasanya koplak atau yang gila dianggap baik dan benar dan paok paok an (pamer ketololan).

Kaum mapan dan nyaman kebijakannya bagai “Sangite kabel kobong (bau menyengat bagai kabel terbakar)”. Mereka lupa diri karena dikelilingi kaum dolop yang ngendhas ngendhasi ( kaum provokatif ). Mereka merasa benar dan paling bisa walau sejatinya micek mbudek (tidak buta tetapi pura pura buta, tidak tuli tetapi pura pura tuli).

 Kaum itu nyebahi, ora mung nggateli ananging ugo nggatheli, amargo ora tahu biso ndelok apik ing liyan, sing ono mung nyelathu, ngendhas ngendhasi, rumongso biso ananging ora biso rumongso. Yen diwales banjur keloro loro rumongso paling sengsoro. Urip e kebak pikiran elek, srei, meri ora ono lelabuhane anane mung njaluk dipahami.

Kaum rumput yang selalu terinjak injak hanya bisa gerundelan dan mengumpat. Melawan langsung pasti dimatikan hidup dan kehidupannya. Kata bajing + an sering kali jadi pilihannya. Kata dasarnya dari bajing atau tupai, binatang pemakan kelapa. Bajing kalau makan kelapa, satu buah saja masih tersisa. Mbajing bisa dimaknai melakukan tindakan yang kontra produktif bisa saja berkaitan dengan kejahatan. Bajingan ungkapan sarkas dan kasar atau umpatan untuk orang orang yang jahat dan menjengkelkan. Walau ada yang mengistilahkan gerobak sapi, namun pada umumnya merupakan suatu sengatan keras, rasa benci juga dendam. Bagi profesi apa saja yang baik dan benar, dan profesional maupun orang yang terpelajar, bagi orang jawa kata atau ungkapan bajingan tidak pantas diucapkan sekalipun hatinya marah dan benci. Bajingan dalam bahasa ada rasa dan tuduhan: licik, penuh dengan cara curang, menghalalkan segala cara, berani meminta dan mengatur jabatan dan kekuasaan untuk disalahgunakan.

Keras dan pedasnya kritik bukan berdasar kata kata yang kasar yang justru menghilangkan esensinya.

Berani kasar bukan hebat malahan memalukan arena konflik bukan ala preman adu okol tanpa akal.

Fenomena di atas menjadi pelajaran adab bagi kita semua. Kita bisa belajar dan bercermin dari karya para kartunis dan karikaturis mengkritik, menjadikan model gambar tokohnya dipletat pletotkan ala kartun satir dan surealis namun fun atau mengundang tawa.  imajinasi karikatural atau kartunal dapat digunakan sebagai refleksi atau cermin diri untuk berbenah atau setidaknya kembali ke jalan kewarasan tanpa tendensi kebencian. Lihat saja karya: Agustin Sibarani, Gm Sudarta, Pramono Pramudjo, Dwi Koendoro, Gatot Eko Cahyono, Non O (Sudi Purwono), Anwar Rosyid, Libra, Jhoni Hidayat, Subro, Ashady, Jitet Kustana, Benk Rahardian, Ifoed, Dian Bijac, Wawan Bastian, dsb. Karya karya kelompok Pakarti, Kokang, Secac, Pakyo, Pakarso, dan masih banyak lagi.

Mereka kritis mengkritik namun sense humornya tidak hilang. Para Komika, para pelawak seperti Cak Lontong, Warkop, dll juga kritis namun tetap menghibur. Para Profesor dan pakar yang kritikannya pedas keras namun adabnya tetap terjaga. [CDL]

 

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

About the Author

transindonesia.co

Administrator

transindonesia, berita indonesia, indonesia aktual, nusantara, metropolitan

Visit Website View All Posts

Post navigation

Previous: SBY Dituding di Balik Kasus Ijazah Jokowi, Demokrat Somasi Akun Medsos
Next: Basarnas Perpanjang Pencarian 3 WNA Spanyol di Labuan Bajo Hingga Tiga Hari ke Depan

Trans Stories

Paspor
2 minutes read

Isu Jutaan Data Paspor WNI Diretas, Kemenimipas: Sistem Aman, Masyarakat Jangan Panik

transindonesia.co 4 Mei 2026 0
Amien Rais
4 minutes read

Penjelasan Amien Rais soal Hubungan Prabowo dan Teddy

transindonesia.co 3 Mei 2026 0
Prabowo Lantik Menteri
2 minutes read

Presiden Prabowo Lantik Jajaran Menteri dan Kepala Badan Baru

transindonesia.co 27 April 2026 0

TransIndonesia

Abdullah Rasyid dkk
4 minutes read

Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

transindonesia.co 6 Mei 2026 0
Kedai ADO
2 minutes read

Kapolda Sumsel Buka Kedai ADO ‘Rumah Ojol’ Presisi

transindonesia.co 6 Mei 2026 0
Bandara Hongkong
3 minutes read

Belajar dari China, Pariwisata Indonesia Butuh Ekosistem Bukan Hanya Bebas Visa

transindonesia.co 6 Mei 2026 0
Pusdiklat PB
3 minutes read

Kepala BNPB: Kalaksa BPBD Harus Terjun ke Lokasi Bencana

transindonesia.co 5 Mei 2026 0
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Disclaimer
  • TRANSMARITIM
  • TRANSTEKNO
  • TRANSSPORT
Copyright © 2026 All right Transindonesia.co | ReviewNews by AF themes.