TRANSINDONESIA.co | Oleh: H. Syahrir, SE, M.I, POL.
PENDIDIKAN yang berkelanjutan (sustainable education) bukan sekadar durasi waktu di bangku sekolah, melainkan tentang kemampuan individu untuk terus bertumbuh, beradaptasi, dan berdaya guna sepanjang hayat.
Di tengah arus informasi yang tak terbendung, literasi hadir bukan lagi sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis semata, melainkan sebagai kompetensi hidup menentukan kualitas masa depan suatu bangsa.
Literasi adalah jantung pendidikan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
DIMENSI LITERASI
Untuk memperkuat dimensi literasi ada enam pilar strategis pondasi utama pendidikan berkelanjutan:
I. Literasi Membaca dan Menulis: Gerbang Konseptual
Literasi dasar sebagai fondasi dari seluruh piramida pembelajaran. Berdasarkan data PISA (Programme for International Student Assessment), kemampuan literasi membaca tidak hanya mengukur kefasihan, tetapi juga kemampuan mengevaluasi dan merefleksikan informasi.
Dampak; Membantu siswa beralih dari sekadar menghafal (rote learning) menuju pemahaman konseptual.
Keberlanjutan; Menumbuhkan kegemaran belajar secara mandiri (self-directed learning)
II. Literasi Numerasi: Logika di Balik Data
Numerasi bukan sekadar matematika teoritis, melainkan kemampuan mengaplikasikan konsep bilangan dan simbol dalam situasi praktis.
Dampak; Membekali individu dengan kemampuan berpikir logis dan sistematis dalam pengambilan keputusan berbasis data.
Keberlanjutan; Mendukung penguasaan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan.
III. Literasi Digital: Navigasi di Era Kecerdasan Buatan (AI)
Di era informasi dan hoaks tumpang tindih, literasi digital menjadi “perisai” intelektual. Hal ini mencakup etika berkomunikasi di ruang siber dan kecerdasan dalam memanfaatkan teknologi.
Dampak; Mengubah pengguna teknologi dari sekadar konsumen menjadi kreator yang bertanggung jawab.
Keberlanjutan; Memastikan relevansi sumber daya manusia di pasar kerja yang kian terdigitalisasi.
IV. Literasi Sains: Berpikir Kritis Berbasis Bukti
Literasi sains memungkinkan seseorang memahami fenomena alam dan implikasi aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Dampak; Membentuk pola pikir kritis (objektif) dan kepedulian terhadap isu global seperti perubahan iklim.
Keberlanjutan; Mendukung target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) melalui gaya hidup yang ramah lingkungan.
V. Literasi Finansial: Pilar Kesejahteraan dan Kemandirian
Kemampuan mengelola sumber daya ekonomi sangat krusial untuk mencegah kerentanan finansial di masa depan.
Dampak; Mengajarkan manajemen risiko, investasi, dan perencanaan keuangan jangka panjang.
Keberlanjutan; Menciptakan masyarakat yang tangguh secara ekonomi dan mampu berkontribusi pada stabilitas nasional.
VI. Literasi Budaya dan Kewargaan: Perekat Keberagaman
Sebagai bangsa yang majemuk, literasi budaya adalah kunci untuk menjaga kohesi sosial. Ini mencakup pemahaman akan hak, kewajiban, dan identitas sebagai warga negara.
Dampak; Menumbuhkan toleransi, etika, dan empati di tengah perbedaan.
Keberlanjutan; Menjamin terciptanya masyarakat yang harmonis, stabil, dan demokratis.
Dari enam dimensi literasi di atas, bukan sekedar mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga warga negara yang siap hidup, berkontribusi, dan menjaga keberlanjutan peradaban.
Hal utama yang harus kita sadari bersama adalah bahwa literasi bukan sekadar soal melek huruf. Literasi adalah instrumen pemberdayaan yang membekali seseorang agar mampu terus belajar (re-learn), meninggalkan cara lama (unlearn), dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di tengah ancaman polarisasi, literasi budaya adalah perekat. Ini adalah kemampuan untuk menghargai keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Esensi literasi adalah membentuk karakter, etika, dan tanggung jawab sosial sebagai warga dunia (global citizen). Karena, literasi adalah investasi bukan biaya.
PENUTUP
Hal utama yang harus kita garis bawahi adalah, literasi bukan cuma soal bisa membaca, tapi membekali seseorang agar terus belajar, beradaptasi, dan berkontribusi sepanjang hidup.
Pendidikan berkelanjutan hanya akan terwujud jika setiap individu memiliki kunci literasi yang kuat. Sebagai bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN), kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan literasi menjadi denyut nadi di setiap ruang kelas, perpustakaan, hingga pelosok desa.
DPP Gerakan Literasi Nasional (GLN) mengajak kita menjadikan literasi sebagai gaya hidup, demi masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya.
“Buka lembaran baru, perkaya ilmu, perkuat literasi. Selamat Tahun Baru!”
Penulis: Ketua DPP Dewan Pembina Literasi GLN.
