TRANSINDONESIA.co | Oleh: Triyo Supriyatno (Guru Besar UIN Maliki Malang).
Dalam perjalanan waktu umat manusia, setiap peradaban memiliki cara sendiri dalam memaknai waktu. Tidak sekadar menghitung hari, bulan, atau tahun, tetapi juga memberikan nilai-nilai simbolik pada momen-momen tertentu. Salah satu bulan yang mendapatkan tempat istimewa dalam tradisi Islam adalah Dzulqa’dah. Bulan kesebelas dalam kalender Hijriah ini termasuk ke dalam deretan empat bulan haram, yaitu bulan-bulan suci di mana peperangan, perselisihan, dan pertumpahan darah dilarang, serta dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjunjung tinggi nilai perdamaian.
Secara historis, dalam masyarakat Arab klasik sebelum datangnya Islam, Dzulqa’dah sudah dipandang sebagai bulan jeda dari berbagai pertikaian antar-kabilah. Mereka menjadikan bulan ini sebagai waktu aman untuk melakukan perjalanan dagang, bersilaturahmi, dan mempersiapkan diri menuju ibadah haji di bulan berikutnya, Dzulhijjah. Bahkan setelah risalah Islam hadir, makna itu dipertahankan dan dikuatkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang menjadikannya sebagai momentum penguatan spiritual, sosial, dan moral masyarakat.
Membaca Ulang Nilai-Nilai Dzulqa’dah di Era Kekinian
Namun, nilai luhur itu tidak seharusnya hanya berhenti sebagai cerita sejarah. Dzulqa’dah hari ini menantang kita untuk melakukan tafsir transformatif — membaca ulang pesan-pesan masa lalu dan menerapkannya sesuai dengan situasi kekinian. Di era digital yang penuh dengan dinamika, di mana konflik tidak lagi hanya terjadi di medan pertempuran tetapi juga dalam ruang-ruang maya, bulan ini bisa menjadi titik jeda bagi kita untuk menahan diri, menenangkan hati, dan menyebarkan pesan damai di sekitar.
Bayangkan, jika masyarakat dulu mampu menghentikan pertikaian demi menjaga kehormatan bulan Dzulqa’dah, mengapa kita hari ini tidak bisa menahan jari untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian, hoaks, atau memicu perdebatan yang tak perlu di media sosial? Dzulqa’dah mengajarkan bahwa ada saatnya manusia perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, mengambil napas panjang, menenangkan diri, lalu memulai lagi langkah yang lebih baik.
Kisah dari Sebuah Desa: Pelajaran tentang Keberanian Memulai Ulang
Di sebuah perkampungan sederhana, jauh dari keramaian kota, tradisi merayakan Dzulqa’dah dilakukan dengan cara yang unik. Setiap malam menjelang akhir bulan, para tetua desa mengundang seluruh warga berkumpul di sebuah balai bambu. Tidak ada agenda mewah, tanpa pidato panjang, apalagi pertunjukan hiburan. Hanya malam yang dipenuhi pelita, suara jangkrik, dan cerita-cerita sederhana.
Di forum itu, setiap orang bebas bercerita tentang apa saja: tentang kesedihan yang belum tersampaikan, tentang kesalahan yang belum sempat diminta maaf, atau tentang cita-cita yang belum terwujud. Tidak ada yang boleh menyela, tak boleh mencela, apalagi menghakimi. Semua duduk sejajar, dari anak-anak hingga orang tua.
Pada suatu malam, seorang pemuda yang dikenal keras kepala dan emosional datang dengan kepala tertunduk. Dulu, ia sering terlibat cekcok dengan warga lain, bahkan sempat meninggikan suara kepada orang tuanya sendiri. Namun malam itu, di depan semua orang, dengan suara pelan, ia mengakui semua kesalahannya. Air mata menetes saat ia meminta maaf dan berjanji ingin memperbaiki diri mulai dari bulan Dzulqa’dah itu.
Seketika suasana balai bambu hening. Para tetua meneteskan air mata. Tidak ada yang mengungkit masa lalu, tidak ada yang menyindir atau menghakimi. Malam itu, satu per satu warga menghampiri pemuda itu, memeluknya erat. Sejak saat itu, tradisi meminta maaf dan memperbaiki diri di bulan Dzulqa’dah menjadi kebiasaan di desa tersebut, diwariskan turun-temurun hingga kini.
Dzulqa’dah: Bukan Hanya Nama Bulan, Tapi Ruang Damai
Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap orang selalu punya kesempatan untuk kembali. Dzulqa’dah hadir bukan sekadar sebagai nama bulan dalam kalender hijriyah, tetapi sebagai ruang waktu yang mengajarkan manusia pentingnya menahan diri, memaafkan, dan berani memulai ulang.
Di era sekarang, di tengah derasnya arus informasi dan derasnya opini di media sosial, tradisi ini bisa kita adopsi dengan cara yang relevan. Mungkin dengan memilih tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, atau dengan berani meminta maaf kepada seseorang yang pernah tersakiti oleh ucapan atau tindakan kita, meskipun itu lewat pesan singkat. Dzulqa’dah memberi kita ruang untuk itu.
Menutup Dzulqa’dah dengan Kesadaran Baru
Sebentar lagi Dzulqa’dah akan kembali hadir. Marilah kita sambut bulan mulia ini bukan sekadar sebagai penanda waktu menuju Dzulhijjah dan Idul adha, tetapi juga sebagai momentum transformasi diri. Jadikan Dzulqa’dah sebagai waktu kontemplasi, waktu damai untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sebab, seperti kisah pemuda di balai bambu itu, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri, selalu ada waktu untuk memulai lagi.
Dzulqa’dah bukan sekadar bulan, tapi cermin bagi hati yang ingin pulih menatap masa depan yang cemerlang.**
