Hidup itu harus bisa berdamai dengan masa lalu demi menyongsong masa depan. Transindonesia.co /Mirza Ichwanuddin
TRANSINDONESIA.co | Dalam relasi antarmanusia — khususnya dalam relasi cinta — prinsip untuk selalu mencari kejelasan, atau dalam bahasa agama disebut tabayyun, adalah sesuatu yang amat penting dan mendesak. Cinta, yang seharusnya menjadi anugerah, justru sering berubah menjadi beban dan luka hanya karena miskomunikasi dan prasangka yang tidak pernah diluruskan.
Kira-kira seperti itulah pesan yang disampaikan dalam film Tabayyun yang premier sejak 8 Mei lalu. Begitu dalam pesan terkandung dalam film itu, hingga akhirnya sebanyak 132 orang yang diinisiasi oleh The Pawaka’s duduk manis menonton film itu pada Ahad sore (11/5/2025) lalu, di XXI Plaza Senayan, Jakarta.
132 orang yang hadir itu merupakan sahabat dan kerabat dari para anak-anak alm Soewarso Pawaka. Tidak ada maksud lain dari kehadiran mereka di sana. Agar selain terjalin silaturahim yang hangat dan masih dalam semangat pasca Idul Fitri, Tabayyun, diharapkan mampu dihadirkan ketika kabar miring yang mereka terima harus dicari kebenarannya.
Hingga akhirnya, membuat seorang guru besar bid Ilmu Pendidikan UIN Malang, Prof DR. H. Triyo Supriyatno, M.AG. pun ikut berkomentar panjang, seusai beliau juga menonton film itu di salah satu bioskop di Malang.
Dalam khazanah Islam, tabayyun diartikan sebagai usaha untuk meneliti, memeriksa, dan mencari kejelasan suatu informasi sebelum mengambil keputusan atau tindakan. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (tabayyun) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.”
Meski ayat ini berbicara dalam konteks sosial yang lebih luas, nilai moral di dalamnya sangat relevan untuk diterapkan dalam lingkup relasi personal. Betapa sering relasi cinta, pertemanan, bahkan ikatan keluarga rusak hanya karena kabar sepihak yang diterima mentah-mentah, tanpa konfirmasi, tanpa klarifikasi.
“Di era digital ini, bukan hal asing ketika seseorang cemburu karena unggahan media sosial pasangannya, atau sakit hati hanya karena pesan singkat yang ambigu. Padahal, kebenaran bisa jadi sama sekali berbeda jika saja ada keberanian untuk bertanya, untuk bertabayyun”, ujarnya.
Cinta, pada dasarnya, adalah tentang saling percaya dan saling memahami. Tetapi kepercayaan itu bisa rapuh ketika prasangka hadir tanpa dasar. Dalam psikologi sosial, prasangka disebut sebagai “judgement before adequate information” — penilaian sebelum memiliki informasi yang cukup.
Ketika seseorang mulai berprasangka, otaknya cenderung hanya mencari bukti-bukti yang menguatkan apa yang telah ia yakini sebelumnya, dan menutup diri terhadap informasi yang berseberangan. Di sinilah relasi mulai retak, sebab komunikasi tergantikan asumsi, dialog diganti dugaan.
Dalam kisah di film Tabayyun itu, kepedihan dimulai tatkala Zalina muda mengalami perundungan oleh ayah tirinya seusai pulang dalam keadaan mabuk bersama sang ibu (yang diperankan oleh Maya Hasan). Bukan hanya sekedar perundungan, hingga kemudian melahirkan bayi tak berdosa bernama Arka. Saat diketahui hamil sang ibu menyarankan agar Zalina menemui sobatnya, Bu Tiwi seseorang yang mengelola panti asuhan Rumah Teduh hingga kemudian Arka pun lahir di panti asuhan itu yang kemudian tumbuh berkembang bersama anak-anak panti yang lain. Karir Zalima pun memuncak sebagai single parent di sebuah perusahaan advertising yang membenturkan sebuah kenyataan bahwa demi sebuah efisiensi atas usulan anak si pemilik, Arlo, beberapa karyawan terpaksa di lay-off. Zalina jadi tumpuan harapan terakhir teman-temannya agar mereka tidak di-PHK dan berbicara dengan sang pemilik, Samira tentang usulan penyehatan perusahaannya yang membawa dia ditunjuk sebagai Project Manager dan mendampingi putra semata wayangnya.
Sikap dan semangat sat-set Zalina diam-diam menimbulkan simpati di diri Arlo, yang awalnya sangat meragukan kemampuan Zalina hingga kemudian, cinta pun tumbuh perlahan di diri Arlo. Sementara, saat bersamaan, kawan masa kecil yang juga teman kuliahnya di Australia, hadir diantara episode kehidupan yang mulai tumbuh di hati Arlo. Apalagi, sang ibu, Samira sangat ingin menjodohkan anaknya dengan putri sahabatnya itu juga. Namun penolakan pun diam-diam dilontarkan Arlo atas usul ibunya itu.
Dia berpendapat, bahwa kegagalan kehidupan perkawinannya dengan ayahnya Arlo pun jangan sampai terjadi di anaknya itu. Akhirnya, Arum pun bergabung di perusahaan itu juga untuk memperkuat rebranding perusahaan tersebut dengan membuktikan dibawanya klien potensial dari Jepang yang sangat puas atas presentasi Arum dan Zalina. Trio Arlo didampingi duet Zalina-Arum pun tampil menawan dalam memperbaiki kinerja perusahaan dan itu jadi bahan gibahan antara sesama karyawan hingga terdengar sampai ke telinga Arum. Arum yang saat itu tengah suka dengan Arlo tidak lantas mencari keuntungan pada gibahan karyawan itu. Bahkan dengan ibarat, “Andai kalian menunjuk dengan satu jari, sesungguhnya empat jari lainnya itu menyasar kalian sendiri”.
Akhirnya, kedekatan hati Arlo dan Zalina pun terbaca oleh Arum, seseorang yang telah merasa bahwa Arlo telah menjadi miliknya dan akan jadi suaminya kelak. Apalagi foto-foto yang menggambarkan kedekatan Arlo, Zalina dan Arka yang ditaruh Arlo di meja Zalina pun tertangkap basah oleh Arum saat meletakkannya di satu malam yang sepi.
Berita ini terus terang memicu kemarahan dari Samira, apalagi ada beberapa data yang tidak sedap mampir ke telinganya. Arlo pun kemudian berujar, “Mama harus tabayyun dulu, cari kebenarannya, siapa sejatinya Zalina”.
Hingga kemudian mereka, Arlo, Samira dan Zalina duduk satu meja. Momen itu dirasakan oleh Zalina akan terjadi, sekaligus digunakan untuknya menyatakan resign dari perusahaan itu. Sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam dari Samira, “Apakah kamu mencintai Arlo?”.
Zalina pun menjawab, “Saya menyintai mas Arlo, namun saya harus tahu diri”.
Hingga kemudian, terbongkarlah siapa Zalina sebenarnya, anak seorang kupu-kupu malam, Laras Anindita yang bahkan ketika melihat Zalina mulai belajar merokok pun dimarahinya. “Cukup ibu yang mengalaminya jangan kamu. Kamu harus bisa jadi orang sukses”. Namun, bukan hanya itu, perundungan yang diterima Zalina dari ayah tirinya membuat ibu kandungnya itu pun bukan sekedar seorang pelacur namun juga seorang pembunuh usai dia melakukan perundungan yang berakibat hamil dan lahirlah Arka.

Mendengar semua yang diungkap Zalina bukan makin simpati namun kemarahannya pun memuncak. Namun dimata Arlo, Samira dan Laras, sama-sama seorang ibu yang ingin memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya, meski jalan yang ditempuh berbeda.
Arum pun menyadari, bahwa hati Arlo milik Zalina. Namun dia tetap berharap bahwa persahabatan mereka tetap terjaga. Samira pun kembali mengunjungi Bu Tiwi, menanyakan kenapa asal-usul Zalina sedikitpun tidak diceritakan. Bagi Bu Tiwi, dengan prestasi yang ditunjukkan Zalina, tadinya dia berfikir asal usul jadi satu hal yang tidak terlalu penting. “Kita semua berhak bahagia,” ujar Bu Tiwi kemudian. Berdamailah dengan masa lalu dan songsonglah masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Arlo pun bertabayyun dengan sang ibu. Tadinya dia menganggap bahwa ayahnya yang meninggalkannya. Ternyata akibat kesibukan ibunya membuat sang ayah mendapat celah selingkuh dengan orang lain dan meninggalkan anak istrinya.
Restu pun didapat, namun hampir telat, saat ingin menyatakan lamarannya. Zalina dalam perjalanan menuju Bali bersama Arka, karena ada sebuah pekerjaan menantinya di sana. Berkat rengekan Arka, akhirnya Zalina pun menerima lamaran itu.
Lebih lanjut Prof Triyo memberikan ulasannya usai menonton film tersebut.
“Cinta tanpa tabayyun hanya akan melahirkan prasangka yang pelan-pelan merusak keindahannya. Sebaliknya, cinta yang dilandasi tabayyun akan tumbuh menjadi cinta yang dewasa, sehat, dan penuh kepercayaan”. Tabayyun dalam cinta bukan sekadar soal konfirmasi fakta, tetapi juga keberanian untuk terbuka tentang perasaan, tentang ketidaknyamanan, tentang kegelisahan yang mungkin muncul di tengah relasi. Jangan sampai diam menjadi alasan salah paham, dan jangan sampai dugaan menjadi sebab renggangnya hati yang saling mencintai.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
“Cukup bagi seseorang dianggap berdosa jika ia menyebarkan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim).
Dalam konteks relasi cinta, hadits ini bisa dimaknai sebagai peringatan agar kita tidak mudah bereaksi terhadap kabar apapun tentang pasangan tanpa memastikan terlebih dahulu. Karena cinta itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal adab.
Tabayyun adalah bagian dari adab dalam mencinta. Ia mengajarkan kita untuk tidak mudah terhasut kabar, untuk tidak cepat mengambil sikap atas sesuatu yang belum pasti, dan untuk berani membuka ruang dialog saat hati mulai resah.
Barangkali, di tengah gegap gempita media sosial, kita perlu kembali mempraktikkan tradisi sederhana ini. Mengembalikan cinta pada relung yang tenang, tempat dua hati bisa saling bicara tanpa perlu orang ketiga, tanpa perlu pihak lain yang menyulut api. Karena cinta bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang siapa yang paling mau berusaha memahami.
Dan dalam setiap relasi yang sehat, tabayyun adalah jembatan antara dugaan dan kejelasan, antara prasangka dan kedamaian.
Karena sejatinya, cinta itu bukan tentang siapa yang paling cepat percaya atau paling sering cemburu, tetapi tentang siapa yang paling sabar mencari kebenaran bersama. (Mirza Ichwanuddin)
