Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah.
TRANSINDONESIA.co | BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) merupakan blok strategis yang terus menguat dalam tatanan global, menantang hegemoni Barat melalui kerjasama ekonomi, politik, dan keamanan.
Pada KTT BRICS 2023, blok ini memperluas keanggotaannya dengan mengundang enam negara baru, termasuk Arab Saudi dan Iran, yang akan resmi bergabung pada 2024.
Indonesia, meski belum menjadi anggota, kerap disebut sebagai kandidat potensial.
Artikel ini menganalisis peran BRICS, implikasi perluasannya, serta posisi Indonesia dalam konstelasi ini.
Profil BRICS: Kekuatan Kolektif dan Ambisi Global
BRICS mewakili 41% populasi dunia dan 26% PDB global (IMF, 2023). Tiongkok dan India menjadi mesin pertumbuhan utama, sementara Rusia dan Brasil menyumbang sumber daya alam strategis. Afrika Selatan berperan sebagai pintu gerbang ke Afrika. Inisiatif seperti *New Development Bank* (NDB) dan *Contingent Reserve Arrangement* (CRA) mencerminkan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan institusi seperti IMF.
Ekonomi:
•Tiongkok: Kontributor 70% PDB BRICS, dengan dominasi di rantai pasok global.
India: Pertumbuhan 6-7% per tahun, fokus pada teknologi dan manufaktur.
•Rusia: Eksportir energi terbesar ke BRICS, terutama setelah sanksi Barat pasca-invasi Ukraina.
•Brasil dan Afrika Selatan: Penghasil komoditas seperti bijih besi, kedelai, dan mineral langka.
Politik:
BRICS berupaya menjadi “penyeimbang” dalam tata kelola global, mempromosikan multipolaritas. Blok ini kritis terhadap NATO dan mendukung reformasi Dewan Keamanan PBB. Namun, perbedaan kepentingan (misalnya, persaingan India-Tiongkok di perbatasan Himalaya) sering menghambat konsensus.
Militer:
•Rusia dan Tiongkok mendominasi kapabilitas militer, dengan anggaran pertahanan gabungan mencapai $400 miliar (SIPRI, 2023).
•Latihan militer bersama seperti “Exercise Vostok” (Rusia-Tiongkok) dan kerjasama teknologi pertahanan India-Brasil menguatkan sinergi non-AS.
Berikut penjelasan lebih rinci tentang profil BRICS, kekuatan ekonomi, dan dinamika politiknya:
Profil BRICS: Kekuatan Kolektif dan Ambisi Global
BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) adalah blok ekonomi-politik yang mewakili “41% populasi dunia” (3,2 miliar jiwa) dan “26% PDB global” (IMF, 2023). Jika diukur dengan “keseimbangan kemampuan berbelanja , kontribusinya mencapai “32% PDB global”, mengungguli G7 (30%). Blok ini menggabungkan kekuatan ekonomi, sumber daya alam, dan pengaruh geopolitik yang saling melengkapi.
Peran Strategis Anggota :
1. Tiongkok & India: Mesin Pertumbuhan
a. Tiongkok : Menyumbang **70% PDB BRICS** (USD 18 triliun pada 2023). Dominasi di manufaktur, teknologi (5G, AI), dan infrastruktur global (proyek Belt and Road Initiative/BRI).
b. India : Pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun** (tercepat di G20), didorong sektor TI (India adalah “kantor IT dunia”), manufaktur murah, dan pasar konsumen muda (65% populasi di bawah 35 tahun).
2. Rusia & Brasil: Gudang Sumber Daya Alam
a. Rusia : Eksportir energi terbesar ke BRICS (minyak, gas alam, nikel). Pasca-sanksi Barat (2022), 80% perdagangan Rusia dengan BRICS menggunakan mata uang lokal, mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
b. Brasil : Produsen utama komoditas pertanian (35% ekspor kedelai global) dan mineral (bijih besi, tembaga). Juga pemain kunci di isu lingkungan (hutan Amazon).
3. Afrika Selatan: Gerbang ke Afrika
a. Memiliki akses ke pasar Afrika (1,3 miliar penduduk) dan cadangan mineral langka (platinum, mangan, kromium) yang vital untuk industri hijau dan teknologi.
Inisiatif Ekonomi BRICS
BRICS membangun arsitektur keuangan alternatif untuk mengurangi dominasi Barat:
New Development Bank (NDB) :
• Didirikan 2015 dengan modal awal USD 50 miliar. Fokus pada pembiayaan infrastruktur dan proyek berkelanjutan. Contoh: Pembangkit listrik tenaga surya di Afrika (USD 300 juta) dan jalan tol di India.
• Berbeda dengan IMF/World Bank: Kepemilikan saham setara (tidak didominasi satu negara), pinjaman tanpa syarat politik ketat.
Contingent Reserve Arrangement (CRA):
Dana cadangan USD 100 miliar untuk stabilisasi moneter saat krisis (mirip IMF). Contoh: Brasil menggunakan CRA saat krisis politik 2016.
De-Dolarisasi :
30% perdagangan intra-BRICS pada 2023 menggunakan mata uang lokal (RMB, rupee, rubel). Tiongkok dan Rusia bahkan gunakan yuan dalam transaksi gas.
Dinamika Politik: Ambisi vs. Tantangan Internal
BRICS ingin menciptakan tatanan multipolar , tetapi terhambat perbedaan kepentingan:
Ambisi Global :
• Kritik terhadap Institusi Barat :
° Menuntut reformasi IMF/World Bank yang dinilai bias ke AS/Eropa (AS menguasai 16,5% hak veto di IMF).
° Mendukung perluasan Dewan Keamanan PBB untuk memasukkan India, Brasil, atau Afrika Selatan.
Penyeimbang NATO :
• Rusia menggunakan BRICS untuk melemahkan sanksi Barat, sementara Tiongkok memanfaatkannya untuk memperluas pengaruh di Global South.
Tantangan Internal:
1. Persaingan India-Tiongkok :
• Konflik perbatasan Himalaya (2020) dan rivalitas di Indo-Pasifik (India pro-QUAD, Tiongkok pro-SCO).
• India curiga terhadap BRI yang melewati Kashmir sengketa.
2. Ketimpangan Ekonomi :
• PDB Tiongkok 10x lebih besar dari India dan 20x dari Afrika Selatan. Ketimpangan ini memicu perdebatan kuota di NDB.
• Perbedaan Sistem Politik :
Demokrasi (India, Brasil, Afrika Selatan) vs. otoritarian (Tiongkok, Rusia) menyulitkan kesepahaman isu HAM atau resolusi konflik.
Masa Depan BRICS: Ekspansi dan Pengaruh
Ekspansi 2024 : Mesir, Iran, UAE, Ethiopia, dan Argentina (mundur) akan bergabung. Ini memperluas cakupan energi (Timur Tengah) dan geopolitik.
Potensi Mata Uang Bersama : Wacana “BRICS currency” masih spekulatif, tetapi penggunaan mata uang lokal terus didorong.
Resiko : Ketergantungan pada komoditas (rentan fluktuasi harga) dan fragmentasi internal bisa melemahkan blok.
BRICS tetap menjadi simbol bangkitnya kekuatan non-Barat, meski kohesinya diuji oleh realpolitik anggota.
Indonesia dan BRICS: Peluang dan Tantangan
Indonesia, dengan PDB $1,3 triliun (terbesar di ASEAN), memiliki daya tarik strategis bagi BRICS:
• Ekonomi: Sumber daya alam (nikel, batubara), pasar konsumen 270 juta jiwa, dan proyek “downstreaming” seperti hilirisasi nikel.
• Geopolitik: Lokasi di Indo-Pasifik dan peran sentral di ASEAN/G20.
• Diversifikasi Kerjasama : Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada investasi AS-EU melalui proyek seperti IKN dan kerjasama dengan Tiongkok di Belt and Road Initiative (BRI).
Namun, keengganan Indonesia untuk “memilih blok” dalam rivalitas AS-Tiongkok menjadi tantangan. Sebagai anggota Gerakan Non-Blok, Jakarta lebih memilih pendekatan pragmatis. Selain itu, defisit perdagangan dengan Tiongkok ($30 miliar pada 2022) berpotensi memperburuk ketimpangan jika Indonesia bergabung dengan BRICS tanpa strategi jelas.
Tantangan Internal BRICS
• Heterogenitas Kebijakan : Demokrasi (India, Brasil) vs. otoritarianisme (Tiongkok, Rusia).
• Persaingan Internal : Konflik perbatasan India-Tiongkok dan ketegangan Rusia-India atas impor senjata.
• Ekspansi Berisiko : Masuknya negara seperti Iran dan Etiopia berpotensi memicu fragmentasi agenda.
Kesimpulan
BRICS merupakan kekuatan disruptif dalam tatanan global, meski kohesinya masih diuji. Bagi Indonesia, bergabung dengan BRICS bisa membuka akses pendanaan NDB dan meningkatkan posisi tawar, tetapi juga berisiko memicu ketegangan dengan AS/EU. Keputusan Jakarta harus mempertimbangkan keseimbangan antara pragmatisme ekonomi dan netralitas geopolitik.
Referensi
IMF. (2023). “World Economic Outlook Database”.
SIPRI. (2023). “Trends in World Military Expenditure”.
BRICS Summit. (2023). “Johannesburg Declaration”.
World Bank. (2023). “Indonesia Economic Prospects Report”.
Laksamana, A. (2022). “Indonesia’s Foreign Policy in the Indo-Pacific”. Journal of East Asian Affairs. *
