Penulis Muhammad Bardansyah (kiri) dan Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan Abdullah Rasyid (kanan) saat acara Pemuda Pancasila beberapa waktu lalu. Transindonesia.co /Dokumentasi
TRANSINDONESIA.co | Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah laut mencapai 6,4 juta km² dan posisi strategis di antara dua samudera (Hindia dan Pasifik), memegang peran krusial dalam stabilitas keamanan regional Asia.
Namun, dinamika geopolitik dan geostrategis yang semakin kompleks, terutama dengan meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta ketegangan di Laut China Selatan, menuntut Indonesia untuk membangun kekuatan militer yang tangguh dan modern.
Artikel ini akan menganalisis pentingnya modernisasi militer Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta rekomendasi strategis untuk menghadapi gejolak geopolitik dan geostrategis di kawasan Asia.
Posisi Geostrategis Indonesia
Indonesia terletak di jantung Asia Tenggara, dengan jalur laut strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok yang menjadi arteri perdagangan global. Menurut data International Maritime Organization (IMO), lebih dari 90.000 kapal melintasi perairan Indonesia setiap tahun, membawa sekitar 40% perdagangan dunia (IMO, 2022).
Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai “chokepoint” geopolitik yang rentan terhadap ancaman keamanan maritim, termasuk pembajakan, penangkapan ikan ilegal, dan aktivitas militer asing.
Selain itu, Indonesia berbatasan langsung dengan wilayah sengketa di Laut China Selatan, di mana China, Vietnam, Filipina, dan Malaysia saling memperebutkan klaim teritorial. Meskipun Indonesia bukan pihak yang bersengketa, aktivitas militer China di sekitar Kepulauan Natuna telah memicu ketegangan.
Pada tahun 2020, misalnya, kapal penjaga pantai China memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna, memicu protes diplomatik dari Jakarta (Reuters, 2020).
Insiden ini menunjukkan betapa pentingnya Indonesia memiliki kekuatan militer yang mampu menjaga kedaulatannya.
Tantangan Keamanan Kontemporer
Ancaman di Laut: Sebagai negara maritim, tantangan utama Indonesia adalah menjaga keamanan di perairan teritorialnya.
Menurut Laporan Keamanan Maritim ASEAN 2021, kasus pembajakan dan penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia masih tinggi, dengan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar AS setiap tahun.
Selain itu, aktivitas militer asing yang tidak diinginkan, seperti patroli kapal perang China dan AS di Laut China Selatan, meningkatkan risiko konflik.
Persaingan Kekuatan Besar: Persaingan antara AS dan China di kawasan Indo-Pasifik telah menciptakan ketidakstabilan.
AS, melalui kebijakan “Free and Open Indo-Pacific” (FOIP), berupaya memperkuat aliansi militernya dengan negara-negara seperti Jepang, Australia, dan India.
Sementara itu, China terus memperluas pengaruhnya melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) dan peningkatan kekuatan militer di Laut China Selatan. Indonesia, sebagai negara non-blok, harus mampu menjaga netralitasnya sambil memastikan kepentingan nasionalnya tidak terganggu.
Ancaman Non-Tradisional: Terorisme, bencana alam, dan pandemi adalah ancaman non-tradisional yang memerlukan respons militer yang fleksibel.
Misalnya, pada tahun 2018, gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan memerlukan operasi kemanusiaan besar-besaran oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) (BNPB, 2018). Kemampuan militer dalam penanggulangan bencana menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi bencana alam.
Pentingnya Modernisasi Militer
Untuk merespons tantangan ini, Indonesia perlu melakukan modernisasi militer secara menyeluruh.
Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
1. Peningkatan Kapabilitas Laut dan Udara : Armada laut Indonesia perlu ditingkatkan dengan kapal perang modern, kapal selam, dan sistem pertahanan pantai. Saat ini, Indonesia memiliki 221 kapal perang, tetapi hanya sebagian kecil yang tergolong modern (Global Firepower, 2023). Pembelian kapal selam kelas Nagapasa dari Korea Selatan dan pesawat tempur Rafale dari Prancis adalah langkah positif, tetapi masih diperlukan investasi lebih besar.
2. Penguatan Pertahanan Siber : Dalam era digital, perang siber menjadi ancaman nyata. Menurut laporan Microsoft Digital Defense Report 2022, serangan siber terhadap infrastruktur vital di Asia meningkat 40% pada tahun 2021. Indonesia perlu membangun kekuatan siber yang mampu melindungi infrastruktur vital negara dari serangan digital.
3. Kerja Sama Pertahanan Regional : Indonesia harus aktif dalam kerja sama pertahanan regional melalui forum seperti ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) dan kerja sama bilateral dengan negara-negara sahabat. Misalnya, kerja sama dengan Australia dalam latihan militer bersama “Indo-Pacific Endeavour” dan dengan Singapura dalam patroli laut bersama telah meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia.
4. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia : Modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia militer. Pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan akan memastikan bahwa personel militer Indonesia mampu mengoperasikan peralatan modern dan menghadapi tantangan kompleks.
Dampak Geostrategis
Membangun kekuatan militer yang tangguh tidak hanya akan meningkatkan keamanan nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik regional.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara (PDB mencapai US$1,3 triliun pada 2022), Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain kunci dalam menjaga stabilitas kawasan.
Kekuatan militer yang kuat akan memberikan Indonesia leverage dalam diplomasi dan negosiasi internasional.
Selain itu, kekuatan militer yang tangguh juga akan memberikan rasa aman bagi investasi asing dan pembangunan ekonomi.
Stabilitas keamanan adalah prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan Indonesia tidak dapat mengabaikan hal ini jika ingin menjadi kekuatan ekonomi global.
Kesimpulan
Dalam menghadapi gejolak geopolitik dan geostrategis di Asia, Indonesia tidak memiliki pilihan lain selain membangun kekuatan militernya.
Modernisasi militer, peningkatan kapabilitas pertahanan, dan kerja sama regional adalah langkah-langkah kunci yang harus diambil.
Dengan kekuatan militer yang tangguh, Indonesia tidak hanya akan mampu menjaga kedaulatannya, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia. •Drs. Muhammad Bardansyah, Ch, Cht
Referensi
1. International Maritime Organization (IMO). (2022). ‘Annual Report on Maritime Trade’.
2. Reuters. (2020). ‘Indonesia protests after Chinese coast guard enters its waters’.
3. ASEAN Maritime Security Report. (2021). ‘Challenges and Opportunities in Southeast Asia’.
4. BNPB. (2018). Laporan Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami Sulawesi Tengah.
5. Global Firepower. (2023). *Indonesia Military Strength*.
6. Microsoft Digital Defense Report. (2022). *Cybersecurity Threats in Asia*.
