BPBD Kab. Halmahera Barat mendstribusikan bantuan bagi para pengungsi di beberapa pos pengungsian di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Senin (20/1). Sumber foto: Tim Posko Penanganan Darurat Bencama Eruspsi Gunung Ibu
TRANSINDONESIA.co | Satgas Penanggulangan Bencana (Satgas PB) erupsi Gunung Ibu telah menambah titik lokasi pengungsian yang semula lima titik di Desa Akesibu, menjadi 12 titik yang tersebar di Kecamatan Ibu seperti di Desa Gam Ici, Desa Tongute Sungi, Desa Tongute Goin, Desa Tongute Ternate, dan Desa Soana Masungi.
Hingga Senin (20/1) sebanyak 1.067 jiwa / 432 KK warga Kecamatan Tabaru telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman pasca kenaikan level Gunung Ibu menjadi status level IV ‘Awas’.
Meskipun jumlah pengungsi belum mencapai setengah dari total kepala keluarga di enam desa yang masuk dalam zona bahaya yaitu sebanyak 2.959 Jiwa / 838 KK, namun tim Satgas PB Erupsi Gunung Ibu memastikan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, bayi, anak-anak, dan disabilitas menjadi prioritas evakuasi.
Gunung Ibu terjadi 17 kali erupsi. Tinggi kolom abu tertinggi yang berhasil diamati tim Pemantauan Gunung Ibu di Gam Ici setinggi 1.000 meter di atas puncak, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati sebagai perwakilan BNPB yang ditugaskan dalam rangka pendampingan penanganan erupsi Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara melanjutkan penugasan dengan berkeliling ke sejumlah titik untuk memastikan pelayanan bagi para masyarakat yang mengungsi terpenuhi dengan baik
“Kami bersama Pak Dandim memastikan bahwa setiap hari pengungsi mendapatkan makanan yang bergizi dengan menu-menu yang dipastikan masyarakat bisa menikmati makanan tersebut secara sehat dalam masa pengungsian ini,” kata Raditya bersama tim BNPB dan Dandim 1501/Ternate meninjau lokasi dapur umum yang dikelola oleh pihak TNI, Senin (20/1).
“Tidak ada makanan instan, di sini makanan yang disiapkan di dapur umum dimasak setiap hari _fresh_. Setiap hari disiapkan 1.500 porsi untuk pengungsi dan tim pendukung lainnya,” lanjutnya.
Sampai hari ini telah terdapat dua dapur umum, yaitu milik TNI dan milik Kementerian Sosial melalui Tagana. Dengan semakin banyaknya pengungsi, diputuskan untuk pembagian jadwal memasak dan pendistribusian.
“Jadwal yang ditetapkan pagi dari tim Kemensos Tagana. Makan siang dan malam dari Dapur TNI, bahan disiapkan oleh BPBD. Jadi ada kesempatan belanja dan memasak makanan yang jelas-jelas bergizi agar pengungsi sehat,” tutur Raditya.
Raditya ditemani Dandim juga berkesempatan meninjau ketersediaan logistik di Gudang sementara yang menyimpan persediaan BPBD Kabupaten Halmahera Barat.
Hasil dari tinjauan itu, dapat dipastikan selama seminggu ke depan stok tersedia di gudang tersebut. Jika pun berkurang, dapat mengambil di Gudang yang ada di Kantor BPBD Kab. Halmahera Barat.
Selanjutnya, tinjauan menyasar pada pos pengungsian. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa fasilitas penunjang bagi pengungsi sudah terlaksana, seperti pelayanan kesehatan dan juga ketersediaan guru yang bertugas untuk mengajar bagi anak-anak yang mengungsi.
“Guru-guru akan memberikan pembelajaran bagi anak-anak yang berada di pengungsian, akan membuat kelas agar setiap anak mendapatkan pendidikan. Ini menjadi wajib dan pemerintah menjamin pendidikan masih terus berjalan meskipun dalam masa pengungsian,” ujar Raditya.
“Pelayanan kesehatan dokter dan tenaga kesehatan di setiap titik pos pengungsian ada fasilitas itu,” pungkasnya.
Fasilitas pelayanan lainnya bagi pengungsi adalah psikosial, hari ini sejumlah guru menghibur anak-anak yang berada di pos pengungsian SD Inpres Tongute Goin. Tujuannya agar anak-anak tidak merasa jenuh dan tetap bergembira selama dalam masa pengungsian. [kum]
