
TRANSINDONESIA.co | Era prost truth, kebenaran digerus dengan pembenaran. Penyesatan pembodohan bisa dikemas sedemikian rupa untuk mengobok obok opini publik. Di era digital media menjadi arena untuk power sharing dalam berbagai kepentingan. Hoax bisa bertaburan di mana mana atau ditaburkan dalam berbagai model. Dunia aktual seakan tereliminir dunia virtual yang akan menimbulkan berbagai masalah dan culture schock yang amat mahal social costnya. Produk post truth di design kaum intelektual yang jahat atau memiliki niat mengombang ambingkan atau mengobok obok opini publik.
Era post truth, pelintiran dengan memanipulasi sesuatu dengan menambahkan, mengurangi, merubah,dsb sebagai pembenaran akan berdampak :
1. Salah persepsi
2. Mengadu domba
3. Menghakimi
4. Munculnya solidaritas sosial
5. Merusak citra
6. Menghilangkan kepercayaan
7. Konflik sosial
Media sosial di era digital sekarang ini begitu marak, mampu menggusur ketenaran media media konvensional. Media sosial menjadi ruang yang terbuka atau menjadi arena apa saja untuk menjadi wadah berbagai kepentingan. Media sosial dpat menjadi :
1. Media informasi
2. Media komunikasi
3. Media sosialisasi
4. Media edukasi
5. Media kepentingan politik
6. Media untuk labeling
7. Media bisnis
8. Media penggalangan solidaritas
9. Media penghakiman sosial
10. Media membangun jejaring sosial
11. Media laboratorium sosial
Dan masih banyak fungsi media sosial lainnya.
Media sosial di era post truth banyak juga dampak negatifnya untuk mempengaruhi persepsi dan interpretasi publik. Di era post truth banyak kebenaran dikalahkan oleh pembenaran. Berbagai hal dapat dikemas dalam kebohongan atau dikemas sedemikian rupa dan diviralkan terus menerus sampai yang membuatpun merasa itu sebagai kebenaran. Warga net sekarang ini lebih rame lebih panas suasana dan komunikasinya tatkala hanyut dalam berbagai provokasi media sosial. Buzer bermunculan bahkan menjadi pasukan bayaran untuk saling serang dan menjatuhkan. Konflik antar buzer ini menjadi arena baru yang dengan kata kata kasar bahkan ucapan ucapan yang tidak selayaknya bisa sampaikan tanpa malu atau merasa bersalah. Netizen Indonesia dinilai oleh beberapa pengamat media sosial sebagai netizen yang paling buruk dalam komunikasinya. Tiada lagi tata krama sopan santun. Walaupun ada UUITE dan banyak yg ditindak tegas sanksi hukum tetap saja banyak yang terus saja mengeluarkan kata kata kasarnya. Seakan akan senang dan bangga memamerkan kedunguannya. Sebentar sebentar marah, menghujat dan sama sekali jauh dari budaya timur khususnya sebagai bangsa yang ramah.
Media sosial merajai sistem informasi dan komunikasi dari perorangan sampai berkelompok mereka memiliki suatu tatanan baru. Semua serba on line dari iklan sampai dengan penjualan. Dalam kegiatan para netizen akan dapat dipetakan atau dipolakan dalam berbagai algoritma. Sistem kajian media sosial semakin berkembang semakin menjadi salah satu pilihan komunikasi informasi dengan berbagai strategi untuk kepentingan pengeksploitasian sumber daya. Pemetaan dari berbagai kepentingan tsb antara lain memanfaatkan :
1. Primordialisme sebagai pemersatu.
2. Menggunakan hobby
3. Profesi sbg jembatan komunikasi dan solidaritas
4. Membuka pasar virtual
5. Mencari viewer dan follower
6. Mencari pendapat publik melalui survey
7. Memberikan hiburan
Fungsionalisasi media sosial begitu luas tentu akan berdampak pada perilaku netizen dengan peradaban barunya. Berbagai informasi komunikasi dapat di jembatani secara cepat yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Dampak luas media sosial ini jangan dianggap remeh mampu merontokkan berbagai kepentingan yang sdh lama eksisting.
Intelejen media akan menjadi bagian penting untuk menata atau menjaga keteraturan sosial pada warga net. Prinsip kinerja intelejen dari : pengumpulan data, analisa, produk dan networking ini dapat dilakukan dengan memberdayakan media sosial sebagai bagian dari laboratorium sosial. Dalam kehidupan masyarakat boleh dikatakan ada juga dalam media sosial. Dari pemetaan pembuatan pola polanya dan pengumpulan data maka akan dapat dihubung hubungkan. Dapat dianalisa untuk menghasilkan algoritma yang berupa info grafis, info statistik, maupun info virtual lainnya. Algoritma tadi dapat digunakan sebagai model untuk memprediksi mengantisipasi dan memberi solusi. Intelejen media akan membantu menjembatani untuk terus berkembangnya fungsi media sosial secara positif dan mencerdaskan para warga net untuk tidak hanyut dalam berita hoax. Selain itu juga bagi penegakkan hukum kepada warga net yang dengan sengaja memperkeruh atau mengganggu keteraturan sosial.
Untuk mengatasi era post truth tersebut fungsi lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi kiblat untuk adanya:
1. Standar atas kebenaran yang berbasis pada fakta , data dan fenomena yg terjadi
2. Menginspirasi untuk mengajak dan mendorong orang lain berbuat baik dan benar
3. Memberi motivasi dan solusi secara proaktif dan problem solving
4. Mentransformasi pengetahuan atau kemampuan bagi pencerdasan bangsa dlm kehidupan sosial kemasyarakatan
5. Menjadikan ikon atau simbol kewarasan dan kecerdasan
6. Mengcounter issue
7. Menghasilkan produk literasi
8. Lembaga pendidikan menjadi world class standart dan centre of excellent
9. Mengangkat harkat dan martabat guru
10. Reformasi pendidikan untuk pengembangan imajinasi melalui kemerdekaan berpikir dalam suatu dialog peradaban. (Chrysnanda Dwilaksana)
Lembah Someah 251123







