Tiga siswi sekolah pedalaman di Aceh harus meniti jembatan tali menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah mereka (Foto: Antara)
TRANSINDONESIA.co | Dunia pendidikan di Aceh dihadapkan oleh beberapa tantangan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Pendidikan Aceh telah mengambil langkah signifikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Tanah Rencong ini.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, melalui Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Asbaruddin mengatakan, pihaknya memfokuskan pada beberapa aspek penting. Khususnya pemenuhan dan peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidikan.
“Selain itu juga peningkatan mutu lulusan ke perguruan tinggi negeri dan favorit, peningkatan mutu lulusan SMK ke dunia kerja dan dunia industri, peningkatan kualitas pengawas sekolah, serta akuntabilitas dan efisiensi penganggaran pendidikan yang tepat sasaran dan tepat guna,” ujarnya, Senin (1/5/2023).
Ia juga menyampaikan bahwa pemerataan pendidikan di daerah pelosok menjadi fokus utama Dinas Pendidikan Aceh. Melalui APK (Angka Partisipasi Kasar) yang mendekati 100, hampir semua anak usia sekolah menengah atas sudah berada di sekolah formal (SMA/SMK/MA).
Sedangkan sisanya masuk ke dayah yang merupakan jalur pendidikan nonformal, tersebar di semua daerah dan pelosok. Sementara untuk daerah terpencil dengan akses terbatas, Dinas Pendidikan Aceh menghadirkan kelas jauh seperti yang sudah berjalan di Alue Kejerueng (Aceh Selatan), Gamat (Aceh Tengah), dan Pameu (Aceh Tengah).
Meski telah melakukan berbagai upaya, Dinas Pendidikan Aceh tetap dihadapkan pada beberapa kendala dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah tersebut. Kendala yang dihadapi antara lain tingkat kesadaran sekolah dan kedispilinan para anak didik di daerah terpencil.
“Begitu juga dengan para pendidiknya. Umumnya para guru tidak tinggal di lokasi sekolah sehingga membutuhkan waktu untuk menuju sekolah, belum lagi kondisi alam yang tidak bersahabat sata musim penghujan,” katanya menambahkan.
Kemudian persoalan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba di daerah perkotaan. Oleh karena itu, program peningkatan mutu tidak dapat berjalan tanpa dukungan semua stakeholder, terkhusus orang tua atau wali murid.
Di era digital seperti sekarang ini, lanjut Asbaruddin, Dinas Pendidikan Aceh terus berupaya untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satunya adalah melalui aplikasi ‘Meutuwah Nanggroe’ yang dibangun oleh para guru inti di Aceh.
Aplikasi ini tidak hanya membantu para guru dalam mengikuti P3K. Tetapi juga digunakan sebagai alat latihan siswa menghadapi tes ke perguruan tinggi.
Dalam tahun-tahun terakhir, Aceh telah mencatat beberapa prestasi dalam dunia pendidikan, seperti masuknya Aceh ke dalam lima besar untuk anak-anak lulus perguruan tinggi terbanyak melalui jalur undangan dan 10 besar untuk anak-anak lulus melalui jalur tes ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain itu, para guru yang telah lulus guru penggerak mencapai ratusan orang, terbanyak di Banda Aceh dan Aceh Utara.
Pada tahun 2023 ini, Dinas Pendidikan Aceh mencatat sebanyak 6.888 siswa lulus ke perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan. Artinya sekitar 41,86 persen dari total pelamar sebanyak 16.456 orang yang lulus. “Yang baru ada hasil pengumuman kelulusan melalui jalur undangan, sementara untuk jalur tes masih menunggu hasilnya,” ucapnya.
Asbaruddin sendiri baru saja ditunjuk sebagai Plh Kepala Dinas Pendidikan Aceh menggantikan Alhudri yang telah ditunjuk sebagai Pj Bupati Gayo Lues pada 24 Maret 2023 lalu. Di momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang ditetapkan setiap tanggal 2 Mei tersebut, Asbaruddin mengharapkan dukungan dan saran dari semua pihak untuk membangun pendidikan yang lebih baik di Aceh.
Koordinasi antara stakeholder pendidikan mulai dari hulu hingga ke hilir mutlak diperlukan. Seiring berjalannya waktu, diharapkan mutu pendidikan di Aceh akan semakin maju dan berkualitas.[ant]







