Karya Anwar Rosyid. [CDL]
TRANSINDONESIA.co | Melihat kartun kartun Anwar Rosyid, kita diajak merenungkan atas plesetan atau pengkoprolan logika. Pak Rosyid mengambil dari banyak fenomena kehidupan dari binatang, adat dan kebiasaan, hukum, kehidupan sosial bahkan yang berkaitan dengan militer. Semua diplesetkan tanpa bicara. Lihat karyanya yang terkumpul dalam don Meong, menggambarkan kucing dalam kehidupan manusia atau sebagai fabel. Juga dalam naik onta yang dapat seperti rombongan empat atau lima orang karena punuk ontanya seperti berseri.
Kita bisa melihat bagaimana pemusik diberi karangan nada. Rumah sakitpun tak luput dari besutan pak Rosyid. Media cetak tahun 80 an sd tahun 90 an memberi ruang bagi Anwar Rosyid untuk terus berkreasi. Kekuatan kartunnya bukan dari dialog atau kata katanya melainkan dari kepiawaiannya mengajak penikmatnya sejenak berpikir. Kelucuannya tidak secara langsung disuguhkan, kita bisa melihat karyanya orang dipasung dan diukir oleh si terpasung. Banyak hal yang dalam pemikiran kita biasa biasa namun dalam kartun Anwar Rosyid menjadi sesuatu yang jenaka.
Jenaka mengajak kita semua tertawa dalam kernyitan kepala. Gojek ngajak mikir ini gaya pak Rosyid. Tak tahu berapa karyanya, mungkin bisa mencapai ribuan dalam lebih dari dua dasa warsa sebagai kartunis. Media sekarang terbang satu sayap, para kartunis berubah gaya, era digital menjadi suasana baru.
Berbeda dengan pak Rosyid yang masih menekuni karyanya dengan hand made. Ide gagasan pak Rosyid mengingatkan kita semua hidup yang pendek namun tawa canda bisa abadi. Keabadian telah ditorehkan tanpa banyak bicara. Pak Jan Prabapun memberi komentar melihat pak Rosyid tertawa adalah anugerah. Kalimat kalimat dalam berdialogpun pendek pendek, sesekali tertawapun pendek. Namun di dalam karyanya tawanya bisa panjang dan apalagi sadar kita sedang dikoprol koprolkan logikanya.
Pak Rosyid mengajak kita untuk tertawa dan jangan mudah marah. Walau tanpa bicara, gambar dan kata yang terbatas mampu mengajak kita bergembira dan memberi pencerahan dalam rupa kata garis dan warna.
Tema yang digambarkan pak Rosyid menunjukan kecerdasannya dalam menggambarkan dan mengungkapkan serta mengolah fenomena kehidupan. Pemiikirannya mampu dituangkan dalam gambar kartun jenaka, kadang hanya rupa tanpa kata orang dapat memahami makna di baliknya. Kepiawaian mengolah berbagai ungkapan kadang kala mengkritik atau mengkritisi namun tetap dalam frame tawa canda yang jenaka. Tak jarang seniman kartun atau karikatur harus sangat berhati hati waspada dan mewaspadai bahkan bisa sedikit curiga atau penuh dengan hati trataban.
Khawatir jangan jangan rezim ngamukan yang gampang nesu, bisa membolak balikan kehidupan dan periuk mereka taruhannya. Rezim ngamukkan akan membredel memblack list dan banyak cara bisa digunakan untuk membunuh karakter. Merekapun berani menunjukkan kekuatan kalau mematikan tidak bisa menghidupkan kembali.
Karya seni memang bisa dituduhbatau dilabel apa saja, sejarah menunjukkan masa kelam rezim baperan dan ngamukan, sebentar sebentar marah membredel menangkapi memenjarakan membunuh bahkan. Ini yang membuat trauma untuk mengajak tertawa. Jangan jangan akan berdampak apa?
Jangan jangan penguasa muntah muntah kita yang diperiksa. Trauma bagi karikaturis dan kartunis ini bagai pelawak dalam negara yang otoriter. Siap grak tertawa grak diam grak. Semua pukul rata rasa diubah bagai mesin atau robot saja semua dikendalikan sehingga matilah rasa. Hidup seakan tanpa jiwa.
Namun pak Rosyid membuktikan kartun kartunnya tetap eksis dan ia juga selamat. Ibarat keris kalau tidak ada sesuatu yang berbau magis tentu sebatas hiasan dan bukan lagi pusaka. Demikian halnya kartun dan karikatur kalau hanya yes ndoro tidak ada pemikiran kritis sama dengan madhang waton wareg.
Ada sesuatu yngg kurang. Kekritisan bukan untuk membunuh atau menyerang atau atas dasar kebencian atau membabi buta menjelek jelekkan, melainkan ada sesuatu pesan moral yang ingin disampaikan. Ini suatu kecerdasan dan kepiawaian mengolah rasa dalam rupa walau kadang tanpa kata namun mampu mengajak bercanda dan menghasilkan tawa.
Kepiawaian dan kecerdasan para kartunis menangkap situasi aktual yang dalam berbagai issue penting yg terjadi dan dengan cepat dan up todate ini suatu kecerdasan dalam tekanan.*
Chrysnanda Dwilaksana
Terik di Tegal Parang 181222







