Salah satu karya pelukis dunia melalui olahan garis warna dan gayanya yang sarat makna. [Transindonesia.co /Istimewa]
TRANSINDONESIA.co | Dalam karya rupa ada beragam aliran dan gaya yang bisa menstimuli rasa untuk adanya dialog antara jiwa dengan indera. Memadukan konsep warna gaya dan rasa dalam karya rupa memerlukan imajinasi untuk memahami dan menjabarkan dalam kata maupun visualisasinya. Mungkin saja antara satu orang dengan yang lainnya berbeda namun ada benang merahnya dalam karya jiwa dan jiwa karya. Memvisualkan konsep atau sesuatu memerlukan suatu model baik figurnya, dramatisasinya, tata ruang dan pencahayaan, perspektif, semiotiknya hingga ekspresi maupun alam bawah sadarnya. Suatu karya ada jiwanya karena merupakan karya jiwa si penciptanya, demikian juga sebaliknya di dalam suatu karya terefleksi jiwa si pencipta. Dialog antara penikmat dengan karya seakan ada getar resonansi dan frekwensi yang sama. Bisa dikatakan chemistrinya klop atau nyambung atau chun in dsb. Dialog jiwa dengan indera ini mungkin bisa dikaitkan dengan ” greng” (meminjam instilah dari Pelukis h Widajat).
Karya karya : Leonardo da Vinci, Michelangelo, Raphaelo Santi, Rembrand van Rijn, Paul Pieter Rubens, Edgar Degas, Fransisco de Goya, Albrech Durer, Vincent van Gogh, Paul Gauguin, Paul Cezane, Henry Matise, Claude Monet, Edward Manet, Mac chaggal, Pablo Picasso, Salvador Dally, Wassily Kandinsky, Edward Much, Anselm Kiever, Norman Rock Well, Jackson Pollock, Andy Wahrol, Jean de Konning, Basquiat, Roy lienchiestien, Frida Kahlo, Diego Rivera, Botero, Jean de Buffet, Piet Mondrian, Chu Teh Chun, Wu Guang Zong, Miwa Komatsu dsb menunjukan warna gaya dan rasa yang berbeda namun ada “greng” nya. Demikian halnya pelukis Indonesia (pelukis asing yang berkarya dan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan seni senibrupa di Indonesia) antara lain : Raden Saleh Syarief Bustaman, Abdulah Suriosubroto, Affandi Kusuma, S Sudjojono, Hendra Gunawan, Le Manfong, Dullah, Basoeki Abdullah, Rusli, Salim, Henk Ngantung, Rudolf Bonet, Sudarao, Walter Spies, Arie Smith, Antonio Blanco, Sudjana Kerton, I Gusti Nyoman Lempad, AA GD Sobrat, Ida Bagus Made Poleng, Wayan Meja, Ktut Murtika, Mangkumura, Chusin Setiadikara, Mangu Putra, Anton Huang, Widajat, Srihadi Sudarsono, Sunaryo, Rustamadji, Djoko Pekik, Nashar, Zaini, Oesman Effendi, Suhardi, Nisan Kristianto, Ivan Sagita, Dede Eri Supria, Heri Dono, Sutjipto Adi, Nyoman Masriadi, Putu Suta Wijaya, Nasirun, FX Harsono, Tedja Suminar, Entang Wiharso, Ugo Untoro, S Teddy D, Hendro Suseno, koempoel Sudjanto, Bob Sick Yudita Agung, Lucia Hartini, Kubu Surawan, Agus Kamal, Susilo Budi Purwanto, Amri Yahya, ay tjoe Christine, Agus Suwage, Handrio, Sunarto PR, Soedibio, Wara anindiyah, Sentot Widodo, Herdjaka Hs, Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, Taat Joeda, Melodia, dan masih sangat banyak lainnya yang menunjukan ” greng ” sebagai tautan jiwa dalam karyanya. Karya karya mereka sangat luar biasa. Selain itu banyak nama Pembatik, pembuat wayang, pematung, pengukir, penggrafis, komikus, ilustrator , kartunis, karikatueis yang karya karyannya menjadi tonggak seni budaya dan peradaban bangsa.
Warna dan gaya dalam seni rupa menjadi karakter sang seniman yang dapat dilihat dari banyak sudut pandang maupun pendekatannya. Konteks rasa memang tidak mudah ditulis dalam kata kata karena bersentuhan dengan imajinasi atau jiwa. Mungkin saja indera bisa menangkap dan mendialogkan, menelusuri relung relung dan lorong lorong karya rupa yang merupakan petikan jiwa si penciptanya. Di era digital dapat membantu memvisualkan yang menjembatani penelusuran rasa dalam karya, contohnya animasi tentang karya karya Vincent Van Gogh karya stary night, atau untuk memahami makna bunga matahari, dr Gacjet, mr post man, bunga lilies dsb. Warna gaya dan rasa dalam karya rupa banyak facet yang dapat dilihat dan dipahami bahkan brandingnya. Tak sebatas bagi personal namun bisa dikembangkan menjadi industri atau masuk dunia digital.*
Chryshnanda Dwilaksana
Lewat teng malam di Tegal Parang 110222







