Chryshnanda Dwilaksana; penggiat seni, budaya, sosial, dan penulis. [Transindonesia.co /cdl]
TRANSINDONESIA.CO | Orang orang kebanyakan memahami seni dalam hidup dan kehidupannya “yang penting hati senang”. Apapun maknanya lebih dinomor duakan dibandingkan terhibur dirinya. Kesesakan dan kepenatan hidup membuatnya mencari kelegaan atau pelepasan.
Konteks hepi ini apa saja dari goyangan sampai dagelan semua yang membuatnya ngakak. Seni hati seni hidup dalam kehidupan walau dalam kesusahan sekalipun. Seni yang mampu membahagiakan kaum yang termarjinalkan ini membuat kekuatan sosial besar. Kaum seniman kerakyatan mungkin kurang dilirik bahkan dicap kampungan. Namun seni ini sebenarnya hidup dan menghidupkan jiwa raga kaum kebanyakan.
Mereka memberikan penghiburan mengajarkan dan membagikan jiwa bahagia. Lihat saja kalau orang orang kecil menari.
Tak peduli gaya yang penting rasa. Kendang kempul sudah biaa menghibur. Kobro Aiswo, Jathilan, Ndolilak, Ludrukan, Sagelan Kampung, Sujud Kendang hingga Dalang Blero pun disukai. Lukisan Sokaraja, lukisan Kaca, lukisan ala Citro Waluyo, lukisan Masmundari pada Damar Kurung dan banyak lagi seniman seniman rakyat.
Di masa pandemi seni kerakyatan tetap menghibur. Pengamen dengan musik karet kolor dan kotak sabun pun menghibur walau lagu lagunya dengan lirik lucu wagu namun membuat banyak orang ngakak nguyu.
Seni menjadi oase kehidupan, menjadi pelipur lara pelepas duka walau hanya sesaat nanti puyeng lagi. Seni akan tetap dicari dilakukan dan diciptakan selam manusia hidup, karena seni menjadi bagian atas hidup dan kehidupan. Bahagianya orang orang kecil ini tulus. Ngakak sampai air manata dleweran walau hidupnya sarat kesusahan.
Konteks musik yang diiringi goyangan dengan lirik cinta atau patah hati atau plesetan merasuk hati. “Ngibing” Goyang Dombret, Goyang Pantura, Goyang Ngebor, Goyang Karawang, dan banyak istilah lainnya. Lirik lirik plesetan bikin cekakakkan. Lawakkan dialog lokalan menjadi klangenan. Model mbat mbatan atau ada yang dijadikan korban menjadi dialog guyonan. Bisa antara dalang dengan sinden, atau dalang dengan bintang tamu. Ada juga grup seperti Cak Kartolo dengan Cak Sapari, Precil dengan Yudo, Kancil dengan Belong, Kirun dengan Bagio dan banyak lainnya. Dongeng ala mop Papua, lelucon dialog ala orang sangir, ala orang Madura, ala orang Ngapak dan banyak logat logat daerah yang lucu menghibur menjadi penggeli hati. Rakyat berseni gak peduli kelas dan kasta Ndoro atau jalanan, mereka hanya butuh “hepi”.*
Senja Selepas Hujan 240721
Chryshnanda Dwilaksana







