Indonesia Berdakwah

Nashar : Guru yang Menghidupkan Spirit Berkesenian

Maestro Nashar. [Transindonesia.co /CDL]

TRANSINDONESIA.CO – Sudjojono mengakan bahwa Nashar tidak berbakat namun memberi kesempatan mencoba lagi. Aneh kedengarannya. Sudjojono pun menyarankan Nashar untuk bekerja sebagai tentara atau pegawai lainnya karena tidak berbakat di bidang seni rupa, anehnya memberi kesempatan bagi Nashar mengikuti belajar di sanggarnya. Sudjojono memahami hasrat Nashar yang bgt besar dan niatnya yang menggelora untuk menjadi seniman.

Nashar menuliskan saat diterima sebagai anggota sanggar yang diasuh Sudjojono, ia merasakan ada panggilan hidupnya untuk menjadi pelukis (besar). Ia memupuskan cita citanya menjadi seorang insinyur. Nashar seakan terpacu jiwanya untuk memjadi seorang seniman. Nashar pun pernah belajar dengan pelukis Affandi yang juga memberinya spirit besar untuk melukis. Affandi menyarankan hidupnya untuk melukis kalaupun untuk memcari uang ya sekedarnya selebihnya untuk melukis.

Sudjojono maupun Affandi adalah guru yang menghidupkan menunjukkan jalan bahwa panggilan hidup menjadi penting untuk menemukan karakter sebagai jati diri dan hidup dalam panghilan jiwanya. Nashar sadar betul ia berguru tidak hanya secara formal ia pun belajar ke mana mana ke perpustakaan perpustakaan. Dari surat surat Van Gogh kepada Theo pun ia dalami, ia hayati sebagai pelajaran hidup sebagai pelukis. Chairil Anwar pun mungkin juga memberikan pengajaran bagi Nashar walaupun dalam pertanyaan apakah dirimu telah meneliti jiwa yang menderita. Ini semua seperti hanya omong omong kosong namun oleh Nashar benar benar ia jadikan acuan bagi hidup dan kehidupannya dalam berkesenian termasuk juga tatkala Nashar mengajar dengan spirit kesanggaran.

Nashar sebagai guru bukan untuk mendominasi maupun mengintervensi melainkan ia menempatkan diri sebagai teman, sahabat orang tua yang mendampingi menstimuli memberi masukkan dengan bebas. Nashar mengajarkan kehidupan bukan sekedar teknik melukis. Memahami ajaran Nashar sebenarnya merupakan refleksi atas apa yang ia peroleh, ia rasakan dan ia alami. Nashar menyadari bahwa seni merupakan kebutuhan bagi hidup dan kehidupan walaupun pada saat itu masih dianggap sebagai kesia-siaan.

Semangat kesadaran merupakan kekuatan dari dalam menjalankan kehidupan sebagai seniman. Kekuatan dasar pemahaman atas makna hidup sebagai seniman atau pelukis itu yang ingin Nashar tanamkan bukan sekedar menjadi sarjana seni. Dialog antara alam sosial dan apa saja yang berkaitan dengan obyek yang akan dibuat akan memperkuat karya lukisnya. Nashar sendiri mencoba menemukan ramuan pengajarannya dari apa yang ia alami ia rasakan dan ia dapatkan sebagai pengalaman hidupnya. Karena melukis itu menangkap jiwa sehingga kebebasan akan menjadi frame worknya. Bebas dalam makna tidak terbelenggu dari hal apapun baik dar dalam dirinya maupun dari luar.

Guru merupakan suatu tonggak pendidikan dan menjadi suatu simbol atas hasil pembelajarannya. Walaupun kerja keras para murid pun ikut menentukan dan produk kemanfaatan bagi hidup dan kehidupan banyak orangpun menjadi standar penilaian publik juga. Itu semua disadari dan dilakukan oleh Nashar dengan penuh kesadaran. Ia tidak sebatas menyampaikan namun ia memberi keteladanan. Hidup dan kehidupan dalam berkesenian yang dilakukan Nashar dpt menjadi sesuatu yang melegenda. Sadar atau tidak faktanya Nashar banyak meninggalkan catatan sejarah seni rupa di Indonesia. Nashar tidak hanya menjadi pelukis namun ia juga menjadi guru dan mengajarkan tentang hidup dan kehidupan sebagai seniman.**

Penulis: Chrysnanda Dwilaksana [Pencinta Seni Budaya dan Pendiri Kampoeng Semar]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.