
TRANSINDONESIA.CO – Kita melihat banyak keteladanan dari para bapa bangsa yang berani menjadi ikon panutan bagi berdaulatnya negara. Bagi perjuangan memerdekakan demi adil makmur sejahteranya kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka berani nggetih atau berani melaksanakan komitmennya. Hingga dirinya bahkan keluarga dan kehidupanyapun berani dikorbankan.
Jasanya budi baiknya menjadi kusuma bangsa. Menjadi pahlawan yang menjadi guru bangsa. Siapa yang berkorban? Beliau beliau ini langsung berdiri paling depan “saya”. Para guru bangsa bukan kaleng kaleng bukan sekedar ada dalam kertas namun rela berkorban dan menjadi dasar bahkan pilar bagi bangsanya. Kecintaan dan kebanggaannya sebagai anak bangsa tidak diragukan. Beliau sadar bahwa apa yang dilakukan beresiko berat namun itulah jalan hidupnya menjadi panggilannya.
Menjadi siapa ini yang perlu dibangun karena setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Keinginan mewarisi spirit menjaga menumbuh kembangkan kedaulatan daya tahan daya tangkal dan daya saing bangsa. Bangsa yang besar menghormati para pahlawannya, para guru bangsanya para perintis dan pejuang pejuang kemanusiaan.
Spirit senopati ing ngalogo berani nggetih ini yang hampir menguap. Mostly yang kita lihat hanyalah kepentingan safety player bahkan orientasinya keduniawian. Menjadi siapa merupakan passion dan mungkin bawaan orok. Namun semestinya juga disiapkan dan memikirkan tumbuh berkembangnya kaum kaum alkemis.
Guru bangsa di era milenial di masa new normal adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Berani menunjukkan karakternya sebagai panutan dalam mengcounter atas hoax dan strategi proxy yang menggunakan aprimordial demi kepentingannya. Berani melawan premanisme baik yang ada dalam birokrasi maupun yang ada di dalam kehidupan sosial.**
[Chryshnanda Dwilaksana]






