Indonesia Police Watch Turut Pantau Penyidikan Tewasnya Dua Petani Pagar Batu Sumsel

Ketua Presidium IPW Neta S Pane. [TRANSINDONESIA.CO/Dok.Neta]

TRANSINDONESIA.CO – Indonesia Police Watch (IPW) turut memantau perkembangan penyidikan tewasnya dua petani asal Desa Pagar Batu, Lahat Sumsel. IPW berharap aparat penegak hukum terutama kepolisian (Polres Lahat) bertindak profesional, modern, dan terpercaya (promoter) sebagai program resmi Polri, guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Dua petani Pagar Batu yaitu Putra (33) serta Suryadi (36) tewas pada tanggal 21 Maret 2020 di lokasi lahan sengketa di Desa Pagar Batu, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat-Sumatera Selatan. Selain itu, dua petani lainnya mengalami luka-luka yaitu Sumarlin dan Lion Agustin. Seorang terduga pelaku, seorang Satuan Pengaman sebuah perusahaan, sudah ditangkap Polres Lahat dan kini tengah menjalani penyelidikan.

“Aparatur penegak hukum, seperti polisi harus mampu bertindak secara promoter (profesional, modern, dan terpercaya) dan bukan memihak,” kata Ketua IPW Neta S Pane saat dimintai tanggapan TransIndonesia.co, Rabu 25 Maret 2020.

KLIKTragedi Tewasnya Dua Petani Pagar Batu-Sumsel Dalam Sengketa Lahan, Walhi Kirim Surat pada Presiden RI

Empat tahun terakhir ini Polri gencar mengimplementasikan Program Promoter sebagai program  resmi institusi Polri. “Proses ini sebenarnya sudah menjadi SOP (standar operasional prosedur) kepolisian, tapi apakah SOP itu dijalankan dengan benar? Inilah persoalannya karena masih banyak oknum anggota Polri yang tidak promoter,” tegas Neta.

Program promoter dicanangkan antara lain untuk menepis anggapan bahwa hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. “Kesadaran para pemimpin tertinggi di republik ini perlu dibangun maksimal agar senantiasa bersikap adil dan promoter. Polri sebagai institusi terdepan dalam bersentuhan dengan publik, harus terdepan dalam bersikap promoter,” papar Neta.

Menurut Neta selama ini muncul orientasi kemesraan antara aparat dengan pemodal. Keperpihakan terhadap petani musnah. “Inilah yang membuat petani sering kali terkriminalisasi dan sulit mempertahankan hak hukumnya. Tak jauh berbeda dengan para politisi, aparatur penegak hukum lainnya pun cenderung mengabaikan sikap Promoter ketika terjadi konflik pemodal dan petani. Kini hal tersebut tak boleh lagi terjadi,” jelas Neta.

KLIKJangan Ada Manipulasi Fakta Tragedi Tewasnya Dua Petani Pagar Batu-Sumsel dalam Sengketa Lahan

Lebih lanjut, tutur Neta, dalam banyak kasus terjadi pengerahan aparatur oleh pemodal dalam menekan petani. Akibatnya petani dalam proses lanjutan seringkali dirugikan hak hukumnya untuk mendapat perlakuan adil.

“Proses penyidikan di Polres Lahat terhadap tewasnya dua petani, menjadi tolak ukur apakah aparat kepolisian sudah mengalami kemajuan dalam Program Promoter sebagai program resmi institusi Polri,” pungkas Neta. [MM]

Bagikan

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TransIndonesia.co