KH Miftahuddin Hamdani, Pimp Ponpes Barakatussalikin tengah membacakan Maulid SImtudurro, Ahad (3/11/2019).[TRANSINDONESIA.CO/Mirza Ichwanuddin]
TRANSINDONESIA.CO – Dalam rangka Miladnya yang ke-5 Pondok Pesantren Barokatussalikin, Depok kembali mengadakan Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW, di Ponpes Barokatussalikin di Jl. Harapan, Kp Kekupu RT 005/03 Kel Rangkapan Jaya, Kec Pancoran Mas Depok, Ahad (3/11/2019) .
Dihadiri oleh para alim ulama, habaib, pemuka masyarakat dan tentunya warga setempat. Meski hujan mengawali sore hingga lepas magrib di tempat itu,namun saat acara berlangsung hujan pun reda dengan sendirinya.
Seperti biasanya tradisi di pesantren tersebut, selepas sholat magrib acara diawali dengan pembacaan Manaqib Syech Abdul Qadir Djaelani dan kemudian dilanjutkan dengan ratibul haddat usai sholat isya. Acara dibuka dengan pembacaan rawi yang mengisahkan sejarah Rasulullah dan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Simtudurror.
Namun ada satu hal menarik terjadi saat di akhir pembacaan maulid, tatkala semua jamaah berdiri, Pimpinan Ponpes Barakatussalikin, KH Miftahuddin Hamdani tampak tak kuasa menahan air matanya yang menetes perlahan membasahi pipinya diantara remangnya cahaya lampu sentir yang sengaja dihadirkan di tempat itu.
Konon, saat itu ketika sholawat dan salam dihaturkan kepada Baginda Rasulullah SAW, bagi yang meyakininya, Rasulullah pun hadir di acara-acara tersebut. Saat ditanyakan kepada beliau, KH Miftah pun menjawab,”Setiap dibacakan maulid hati saya memang tidak kuat, hingga tak kuasa meneteskan air mata. Karena kita tentunya sangat berharap akan Syafaat Rasulullah di Yaumil Akhir nanti”.

“Pernah suatu ketika wahyu terputus selama 15 hari lamanya, diawal-awal Beliau menerima wahyu. Saat itu, Rasulullah diejek oleh Kaum Kafir Quraisy bahwa Muhammad sedang dijauhi oleh Tuhannya. Namun Allah Swt menjawab lewat ayat-ayat dalam QS Ad-Dhuha dimana salah satu ayatnya mengatakan Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”.
Berkat doa Nabi Muhammad SAW, Islam berkembang ke seluruh penjuru dunia hingga sekarang di Indonesia dan berkat doanya pula kemajuan Sains dan Pengetahuan pun berkembang hingga kini.
Bahkan begitu cintanya Beliau Rasulullah SAW pada ummatnya, lewat doa berbalut tangis dan Allah mengutus jibril untuk menanyakan mengapa begitu khawatirnya Rasulullah saat itu. Ternyata Rasulullah pun mengkhawatirkan Ummatnya, beliau tidak rela seorang pun ummatnya terbenam selamanya di api neraka.
“Kata Rasulullah, Di akhirat nanti Aku tidak ridho satu pun umatku tenggalam di Neraka. Nanti syafaat Nabi akan diobral kelak di Akhirat pada ummatnya, tentunya yang senantiasa bershalawat dan salam serta menyintaiNya”.
Berkenan dengan hal itu, KH Miftah pun melanjutkan,” Sekarang, maulid itu yang ditunggu adalah ceramat/tausiyahnya padahal inti dari peringatan maulid itu sendiri adalah ada pada Pembacaan Maulidnya, kita harus khusyuk mengikutinya, bahka jika disambi merokokpun tidak boleh”.

Lebih lanjut Habib Hanif mengingatkan,”Kita sekarang sudah bukan lagi masanya menunjukkan pembelaan seperti pada masa pilpres kemarin, sudah ga ada lagi (sambil memeragakan simbol-simbol) itu. Sekarang yang harus kita gaungkan adalah kepalan tangan. Kepalkan tangan dalam menegakkan keadilan lawan kezaliman dengan mengharap ridho Allah. Umat Islam tidak boleh mundur sampai tetes darah yang penghabisan, harus bersatu siap rapatkan barisan, siap jaga NKRI siap bela Ulama”.
Di kesempatan berikutnya, KH Mahmudin Aziz memberikan tausiyahnya,” Rasululah itu diutus ke muka bumi untuk mereformasi akhlak. Sekarang moralitas dan akhlak carut marut, dagangan hoax jadi mewabah. Semua semakin meninggalkan akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah SAW”.
KH Mahmudin pun mengingatkan bahwa di beberapa jamaah majelis taklim yang diisi oleh Kaum Milenial banyak diantara mereka tidak fokus pada materi namun sibuk untuk saling bincang lewat chatting,”Pas disamperin kirain mereka buka dan baca kitab eh ternya sibuk ngechat”.
Acara pun menghadirkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dibacakan oleh Ust H Nurzaman Sahli. salah seorang Qori Internasional.
Lewat jam sebelas malam acarapun ditutup dengan pembacaan doa dipimpin oleh Sayiidil Walid Habib Ali bin Sahil didampingi para alim ulama yang hadir di tempat itu.[MIZ]







