Penulis Muhammad Joni
TRANSINDONESIA.CO – Ceritanya tak sengaja datang ke sini. Tetiba saja saya tiba di bukit kubu yang lapang, hijau, sejuk. Lokusnya menghadap gunung di bawah awan. Arsiteknya paten cari lokasi. Ruoanya sejak doeloe kiat developer adalah: lokasi, lokasi, lokasi.
Saya dari generasi baby boomers, pun tergoda panorama. Berlama pun sekejap di sini, mata seperti diterbangkan layang-layang. Karena berada bukit yang tinggi, dekat ke kaki gunung. Bola mata seperti drone. Memandang ala “helicopter view”. Anak-anak dan remaja generasi milenial lari kesana kemari di lekuk hamparan bukit kubu mulus bak padang golf.
Beberapa bagunan di real estate ini tak dibangun tiba-tiba. Ada sejarah panjang sebelum halal berkibar dwi warna. Sama dengan saya, developer dan pemiliknya tergoda dengan kota wisata di antara dua gunung yang dimulai dengan nama “Si”.
Kota yang indah. Bung Karno, dan Syahrir pernah menjalani pengasingan rezim kolonial dekat sini. Tepatnya Di Desa Lau Gumba, Berastagi, Kabupaten Karo. Ada satu rumah tua dan sederhana yang pernah menjadi lokasi pengasingan Bung Karno oleh pihak Belanda pada agresi Militer II. Tidak jauh dari saya nyaman berdiri. Bisa diintip dengan bola mata dan big data. Mengapa kota sejuk indah disebut pengasingan? Apa pikirnya sejuk bisa memadamkan api semangat dan membungkam bahasa kebangsaan? Belanda salah. Saya membuktikan dalam sejuk dan sendirian malah kreatif dan membara.
Walau tak mengalami pengasingan, di bukit ini saya merdeka. Merencanakan pikiran merdeka, memproduksi gagasan merdeka, menuliskan sketsa dan menambang kata juncto kalimat membara. Meracik isme-isme kemajuan. Yang berkarung-karung hendak dibawa pulang. Segera didandani, dikasi pita merah warna bunga, diperlakukan bak raja nanti malam. Malam sunyi ibarat dalam “pengasingan”, yang menjadi ruang kreatif mendandani tulisan. Sendirian. Walau tanpa kesepian. Menjaga bahasa adalah menjaga bangsa.
***
Tengok petang begitu megah. Sebagai sunset berwarna tembaga. Yang bersiap pamit dari teluk kota.
Pun membiarkan diri sendiri terlamun gelombang idea justisia. Dari perkumpulan ribuan bahkan jutaan lebih kata-kata. Yang hendak dibawa pulang. Dan segera disimpan ke benak maya. Terikat sebagai postulat, tertata sebagai posita, dikoleksi sebagai amunisi. Menjadi aksi literasi idemditto advokasi. “Juru bicara alam”.
[Muhammad Joni]







