Polisi Cilik mengatur lalulintas.[Ist]
TRANSINDONESIA.CO – Benarkah lalu lintas cermin budaya bangsa? Kebudayaan sebagai fungsi dapat dilihat dari pengetahuan, kemampuan, keyakinan, yang terefleksi dalam perilaku untuk memperebutkan atau dalam memberdayakan sumber daya.
Salah satu untuk memperebutkan dan memberdayakan sumber daya adalah melalui lalu lintas. Bill Clinton mengatakan , “Kalau mau melihat suatu bangsa lihatlah dari lalu lintasnya”.
Perilaku berlalu lintas sering dianggap hal biasa dan melanggar malah sering dipertontonkan sebagai kebanggaan. Bahkan ada anekdot bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar.

Lembaga-lembaga pendidikan tidak berani menerapakan standar keselamatan bagi guru dan muridnya, tentu dengan berbagai alasan pembenar. Para pejabat petinggi hingga yang memiliki kewenanganpun hampir-hampir tiada rasa haru dan empati untuk keselamatan.
Ini dapat ditunjukkan pada political will atau berbagai kebijakanya yang belum atau bahkan tidak berpihak pada safety. Secara tersirat maupun tersurat kepentingan yang bersifat kemapanan dan kenyamanan terus dipertahankan bahkan malah dibesarkan untuk dilanggengkan.
Tatkala melihat perilaku pengendara sepeda motor sampai angkutan umum meresahkan. Dari kemampuan yang rendah sampai kesadaran yang salah kaprah semua dipertontonkan.
Aparat penegak hukum tentu juga tidak dapat berbuat banyak. Karena sistem-sistemnya manual, konvensional dan parsial. Pemikiran dan kebijakannya yang pentingm ada di jalan menjaga dan mengatur cukup sudah.
Bisa dibayangkan tatkala di kota-kota besar akan seberapa kuat fisik manusia tentu akan ada batasnya. Apalagi cara-cara manual. Satu ditangani 100 terhambat.
Sistem uji SIM dan pendidikan keselamatan masih diperdebatkan. Tatkala dirapatkan masing-masing saling curiga mencurigai. Lebih banyak rapatanya daripad kerjanya. Keputusan rapat lebih banyak mudaratnya daripada solusi-solusinya. Dari masalah administrasi sampai penganggarannya saling menakut-nakutii. Intinya memang masih belm sampai pada pemhaman yang sama bahwa keselamatan adalah yang pertama dan utama.
Dari sektor bisnis yang dikerjakan masih sebatas untuk untung dan rugi. Lupa kalau dagangannya penyebab cacat dan matinya orang. Lupa bahwa dagangannya juga sebagai penyebab rusak dan strokenya urat nadi kehidupan.
Apa yang dilakukan masih seperti membagi-bagi sedekah dan ini juga memprihatinkan. Standar keselamatan dalam penjualan sama sekali tidak disentuh. Kalaupun ada sebatas seremonial saja.
Bidang asuransi dan pajak belum mencerminkan sebagai wujud dari investasi keselamatan. Menyumbang rompi, traffic coen dan peralatan atau perlengkapan perorangan atau kelompok yang tentu baik namun belm menyentuh core dari keselamatan. Membiayai ini dan itu bahkan sampai pada berbagai acara seminar work shop ada dilakukan, namun lagi-lagi masih sebatas seremonial dan supervisial
Pembangunan sistem penegakkan hukum, tatkala akan dibangun menjadi elektronik, lagi-lagi hal yang memalukan terjadi yaitu, masih memperebutkan kewenangan dan kekuasaan. Membangun sistem yang online menjadi terasa sulit bahkan sarat kepentingan. Seolah menindak dan menegakkan hukum atas pelanggaran lalu lintas mash sebatas ritual-ritual yang menyebalkan dan sarat dengan pemalakan dan penyuapan.
Apa yang semestinya dibangun pada sistem keselamatan adalah menuju one gate service. Sistem edukasi, sistem pengawasan, sistem uji SIM, sampaia sistem penegakkan hukum saling terkait. Tentu sistem pajak asuransi dan dari sektor bisnis juga menjadi soft powernya.
Birokrasi yang dikelola secara manual parsial dan konvensional akan sarat dengan penyimpangan bahkan penyalahgunaan wewenang. Dampaknya keselamatan menjadi terabaikan, pelanggaran akan terus terjadi, sikap masa bodoh masyarakat terbentuk, sistem edukasi tiada lagi kebanggaan, aparat memanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok, sektor bisnis tanpa peduli yang dilihat hanya peluang untung rugi semata. Parah lagi pajak dan asuransi menjadi bancakan dan rayahan yang lagi-lagi tidak manjur atau sekali kerja habis dan dianggap sudah berkeselamatan
Tidak menarik mungkin membahas keselamatan, dari administrasi sampai heroismenya tersangka terlalu dapat dibangga-banggakan. Namun kita sering lupa bahwa semua tiada guna jika tidak selamat.[CDL]







