Muhammad Joni
TRANSINDONESIA.CO – Oleh: Muhammad Joni
Tak terlalu larut malam meratah kepenatan, dengan meratah sekawanan ikan yang dinaikkan ke meja sajian.
Bagai meratah pertanyaan mewah tanpa sisakan gelisah, begitulah misi jawaban.
Jika prosesi makan terikat manner, pun demikian pertanyaan cerdik yang mahal, tak melulu terjawab dari textbook anyar, tapi insting, pengalaman, dan ‘street smart’.

Pertanyaan dan jawaban bak episoda perang saja.
Perlu seni, presisi, visi.
Untuk apa melaparkan hawa dengan berpuasa?
Untuk apa patuhi ulama dengan sadaqta?
Untuk apa menghormati guru di awal buku?
Untuk apa menjadi Indonesia tanpa Sumatera?
Untuk apa “abc”-nya yustisia tanpa memanusiakan manusia?
Untuk apa takluk semesta tanpa mentauhidkan Tuhan?
Unuk apa menyusun kata dengan memperkosanya?
Bukankah bersyukur sang kata, ketika dijadikan sepotong puisi dalam samudera susastra?[]







