Ribuan jiwa terdampak akibat banjir Gorontalo yang diakibatkan sungai meluap.[IST]
TRANSINDONESIA.CO, GORONTALO – Bencana banjir kembali merendam ratusan rumah di Kabupaten Gorontalo. Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan sungai-sungai meluap sehingga terjadi banjir di di wilayah Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Jumat 2 Juni 2017.
“Hujan yang sangat tinggi menyebabkan Sungai Marisa yang melintasi wilayah Limboto Barat, Sungai Moloupo melintasi wilayah Limboto dan Sungai Monggelomo yang melintasi wilayah Kecamatan Tibawa meluap,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya kepada Transindonesia.co, Sabtu 3 Juni 2017.
Menurutnya, banjir merendam ratusan permukiman dan lahan pertanian di Kecamatan Limboto, Limboto Barat dan Tibawa. Banjir merendam 9 kelurahan/desa di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Limboto (Kelurahan Tenilo, Bolihuangga, Hunggaluwa, Bongohulawa, dan Kayumerah); Kecamatan Limboto Barat (Desa Haya-Haya, Yosonegoro, Pone) dan Kecamatan Tibawa (Desa Datahu). Tinggi banjir berkisar 50 – 200 centimeter.

“Tidak ada korban jiwa. Meskipun rumah terendam banjir, masyarakat tidak mengungsi karena wilayah ini hampir setiap tahun mengalami banjir. Masyarakat telah memiliki mekanisme kehidupan untuk hidup harmoni dengan banjir. Artinya masyarakat telah memiliki daya survival untuk merespon banjir,” katanya.
Untuk membantu masyarakat maka BPBD Kabupaten Gorontalo bersama BPBD Provinsi Gorontalo, TNI, Polri, SAR, SKPD, PMI dan relawan telah memberikan bantuan kepada masyarakat. BPBD menyalurkan makanan siap saji untuk buka puasa dan sahur bagi masyarakat yang terdampak. BPBD juga membantu masyarakat untuk membersihkan lumpur di sekolah-sekolag dan tempat tempat ibadah.
Saat ini sebagian banjir sudah surut. Rutinitas banjir di Gorontalo disebabkan rusaknya kawasan hulu, meningkatnya sedimentasi di sungai dan Danau Limboto serta kondisi topografi wilayahnya yang merupakan dataran banjir yang telah berkembang menjadi permukiman. Wilayah hulu yang banyak berubah menjadi kebun jagung dan lahan pertanian tanpa disertai dengan konservasi tanah dan air telah menyebabkan wilayah di Gorontalo rentan banjir.[SAF]






