Rak berisi mainan-mainan dari China di sebuah toko mainan besar di Washington, DC.[RTS]
TRANSINDONESIA.CO – Para pekerja diminta menandatangani “perjanjian lembur sukarela,” yang memungkinkan pabrik untuk melanggar undang-undang perburuhan dan peraturan dengan impunitas relatif.
“Dunia mainan adalah surga bagi anak-anak, tetapi mungkin penderitaan bagi para pekerja pabrik mainan.”
Itulah catatan tim peneliti badan pemantau hak pekerja China Labor Watch (CLW) yang berkantor di New York, yang menyusun temuan dari laporan baru-baru ini yang menguraikan kondisi kerja di empat pabrik mainan di Provinsi Guangdong, China.
![Rak berisi mainan-mainan dari China di sebuah toko mainan besar di Washington, DC.[RTS]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/11/Mainan-China.jpg)
“Kami mendapati, jam kerja rata-rata di empat pabrik ini 11 jam sehari, dengan lebih dari 50 jam lembur per bulan, dan pada setengah dari pabrik itu, jam lemburnya telah mencapai 100 jam, dan yang tertinggi di atas 130 jam,” kata laporan itu, berdasarkan laporan peneliti yang menyamar bekerja di bagian perakitan di pabrik-pabrik “yang relatif dikelola dengan baik”.
Menurut undang-undang tenaga kerja China, buruh tidak boleh bekerja lebih dari delapan jam sehari, meskipun jam dapat diperpanjang dalam keadaan tertentu bagi para pekerja yang sehat.
“Para pekerja bekerja selama 11 jam sehari, semua mendapat 40 sampai 60 menit istirahat makan siang,” katanya. “Ini merupakan pelanggaran yang jelas dari hak pekerja untuk memiliki istirahat yang cukup.”
Manajer mainan pabrik menjelaskan dalam laporan rutinnya, mereka meminta pekerja untuk menandatangani “perjanjian lembur sukarela,” yang memungkinkan pabrik untuk melanggar undang-undang perburuhan dan peraturan dengan impunitas relatif.
Namun, sebagian besar pekerja meminta lembur, untuk menambah penghasilan dasar mereka.
“Upah yang ada terlalu rendah,” kata Li Jintao, pekerja 27 tahun kepada VOA. “Gaji bulanan saya adalah 2.500 RMB ($360), tapi setelah dipotong untuk jaminan sosial, saya hanya menerima sedikit lebih dari 2.000 RMB ($292) per bulan.”[]
Sumber; Voa





