PDAM Tirtanadi Medan.[Don]
TRANSINDONESIA.CO – Tulisan Pelopor Gerakan Bangga Medan dan Sekretaris Nasional (Seknas) Boemi Poetra, Abdullah Rasyid, berjudul “426 Tahun Kota Medan, Lenyapnya Ikon dan Hilangnya Melayu”, mendapat tanggapan positif dari tokoh pemuda asal Kota Medan, Sumtera Utara, H.Syahrir,SE, yang menyebutkan hal tersebut merupakan harapan masyarakat khususnya Kota Medan dan Sumatera Utara.
“Alasan ini juga menjadi sebuah harapan masyarakat Melayu, dimana mereka mendambakan pemimpin yang bisa mengangkat Sumut lebih maju trutama Medan sebagai pusat provinsi,” kata Syahrir kepada Transindonesia.co, Jumat (1/7/2016).
Menurut Ketua Komisi I DPRD Jawa Barat itu, jika kebijakan ini disusun dalam peraturan daerah agar tidak lenyapnya ikon dan lenyapnya Melayu, maka perlu ada kekuatan dari steakholder dan juga pemimpin yang memiliki integritas dalam membangun Medan dan Sumut,” kata putra kelahiran kota Medan yang juga Ketua Umum Perhimpunan Ikatan Alumni (PIA) SMP Negeri 6/7 Medan.
![Masjid Raya Al Mashun.[Don]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/02/masjid-raya-medan.jpg)
“Ini yang perlu diangkat, agar budaya, puak dan social masyarakat di Sumut bisa dipertahankan di masa akan datang,” terang Anak Medan ini.
Sebelumnya, tulisan Abdullah Rasyid, yang mengangkat kenangan Kota Medan pernah mendapat julukan sebagai Kota Texas, kota di daerah utara Amerika Serikat yang terkenal karena keras dan kurang beradab.
Mungkin sebagian besar warga kota Medan tidak peduli dengan predikat atau julukan ini, karena memang yang paling bertanggung jawab adalah aparatur dan para pimpinan yang dalam hal ini adalah Walikota dan jajarannya.
Celakanya, wajah kota Medan hari ini tidak semakin baik bahkan terlihat memperihatinkan. Beberapa persoalan Kota Medan seperti, transportasi, sampah dan kebersihan (bahkan akhir-akhir ini menjadi langganan banjir), premanisme, infrastruktur, sarana prasarana publik, pertanahan tata ruang dan sebagainya selalu menjadi PR para walikota Medan.
Dalam minggu terakhir di awal bulan Juli ini, tidak terlihat aktivitas bahwa Kota Medan sedang berulang tahun, bukan perayaan yang kita inginkan, tetapi aktivitas yang mengingatkan dan membuat kita merasa memiliki dan bangga dengan kota Medan, padahal banyak hal dapat ditampilkan, baik itu pagelaran budaya pun juga pembangunan, atau memang kedua hal itupun sudah hilang dari kota Medan.
Hari ini kita melihat Medan sudah lebih seperti Hongkong, ketika kita tiba di stasiun Kereta Api Medan, maka yang akan kita lihat bangunan Vihara yang sangat besar. Titi Gantung sebagai salah satu ikon kota Medan sudah tertutup oleh bangunan tempat ibadah umat Budha itu.
Belum lagi bangunan ruko dan gedung gedung niaga yang juga dimiliki bangsa Cina itu semakin menjamur di kota Medan. Bahkan sampai tanah negara (dalam hal ini PJKA) “diembat” pengusaha China membangun Mall didekat stasiun kereta api kebanggaan orang Sumut itu.[Saf]





