Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Pada masanya siapa tak mengenal dan tidak menggunakan hand phone (HP) merek Nokia. Boleh dikatakan nokia menjadi HP sejuta umat.
Hanya beberapa tahun berselang Nokia kalang kabut menghadapi gempuran-gempuran bisnis merek lainnya yang smakin canggih, dengan berbagai aplikasi dengan smart phone nya. Nokia berpuas diri dengan kondisinya, beranggapan semua sudah berada dalam genggamanya.
Nokia tidaklah salah, hanya lambat atau tidak melakukan perubahan yang sinifikan, sehingga semua pelangganya berbalik dan beralih ke merek lain.

Bagaimana dengan birokrasi yang seringkali merasa berpuas diri? Dengan lantang mendeklarasikan kebanggaanya karena merasa disenangi pimpinan, atau mendapat restu dan di back up full dari dalam.
Sehingga lupa diri bahkan anti perubahan. Apa yang dikerjakan demi menyenangkan pimpinan dan sebatas pada perintah-perintah semata. Tiada hal baru, bahkan terkesan itu-itu saja dari tahun ke tahun.
Bagi birokrasi yang tidak peka dan tidak. Peduli akan perubahan, bahkan anti perubahan trust tidak akan didapatkan. Semua menjadi narsis pada leader masing-masing, yang direfleksikan dalam berbagai produknya.
Apa yang dialami Nokia akan juga dialami birokrasi. Tidak dipercaya dan ditinggalkan. Tatkala memaksakan bertahan dengan pola dan cara lama maka perubahan akan dipaksa dari luar yang lebih menyakitkan dan membuat birokratnya semakin terancam.
Perubahan adalah keniscayaan. Mau tidak mau harus dilakukan. Tatkala ketinggalan atau lambat melakukan perubahan maka akan ditinggalkan.
Tatkala sebatas reaktif dengan perubahan, maka akan kelelahan dan pada titik tertentu juga akan ditinggalkan.
Sebaliknya, tatkala mampu melampaui melakukan perubahan maka akan terus bertahan dan terus menguasai berbagai perubahan.
Semua ini tergantung dari pemimpin dan system-sistem pendukungnya. Tatkala masih saja terus berpuas diri, narsis dan berkutat pada sebatas menjalankan perintah dan reaktif maka dalam waktu singkat kewenangan dan keberadaanya akan menguap satu persatu.
Nokia sindrom mengajarkan kita untuk terbuka, menjadi kreatif, inovatif, menjadi pembelajaran dan terus berjuang melampaui dan menguasai perubahan.[CDL-06062016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







