Rambu Lalulintas
TRANSINDONESIA.CO – Para pengemudi bus dan truk atau kendaraan angkutan umum biasanya mantan kernet yang tidak pernah belajar memahami arti dan makna keselamatan.
Mereka membawa aset perusahaan dengan nilai jutaan sampai milyaran rupiah, membawa nyawa puluhan dalam kendaraan yang dikemudikannya. Sering kali melakukan pelanggaran dan berdampak fatal hingga jatuh korban bahkan petugas polisipun dapat menjadi korban.
Kesadaran akan keselamatan memang masih sangat rendah di semua kalangan. Dan masalah keselamatan berkendara, dianggap enteng-enteng saja dan angin lalu, dari tahun ke tahun, dari masa ke masa yang dipikirkan hanya untng rugi. Bahkan mediapun ikut membuli dan memberitakan yang mengabaikan keselamatan demi rating atau pesanan yang membayar.

Kalau berpikir waras, kadang merasa miris dan bertanya orang-orang yang punya kuasa namun malah lebih suka pada hal-hal yang celaka. Kira-kira mereka akan menemui karma apa?
Cara berpikirnyapun terkadang cupet sekali tidak mencerminkan rasa cinta kemanusiaan bahkan lebih penting menumpuk harta. Lagi-lagi untung dan rugi yang menarik bagi mereka, “aku oleh piro, kamu wani mbagei piro?”. Itu saja yang diutamakan dan selalu dipertanyakan. Tak jarang malah menakut-nakuti.
Tatkala masih hidup saja sudah jadi hantu bagaimana matinya nanti apa tidak jadi babi ngepet atau hantu-hantu blau menjijikan karena kutukan karmanya.
Keselamatan tidak turun dari langit dan bukan perkara mudah untuk menanamkan dan meyakinkan. Pendidikan, pembangunan sistem dan infrastruktur beserta system-sistemnya dan penegakkan hukum yang tegas dan tidak lagi manual saja tetapi juga dengan elektronik.
Semua itu akan ada jika ada political will yang kuat. Where there is a will, there is a way. Pemimpin yang waras dan bernyali itulah satria piningitnya.
Tatkala kuasa diamanahkan kepada pemimpin karbitan yang hidup dalam kemapanan dan kenyamanan maka lagi-lagi hanya memikirkan untung rugi yang diutamakan.
“Wani piro, oleh piro, keduman ora…” Yang akhirnya kita akan melihat dan merasakan dengan sedih mengucapkan, “Selamat tinggal keselamatan”..[CDL-04052016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana






