Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Mafia-mafia birokrasi menjadi Godfather dimana-mana untuk mempertahankan kemapanan dan kenyamananya. Tambang sumber dayanya dalam birokrasi dijaga dan dipagari kaum kroni dengan media kebencian sebagai senjata.
Media kebencian bagai mesin penabur benih-benih yang menanam kejelekan, kekurangan, kelemahan hingga kesalahan orang, kelompok, institusi, bangsa dan negara.
Bungkus kemasan media kebencian ini yang paling disukai adalah aroma primordial. Maksud dan tujuan meedia kebencian terefleksi dari apa yg diberitakan, apa yang disampaikan.

Data dan faktanya menjadi lemah tatkala dikuasai kepentingan dan ada unsur-unsur rekayasa yang jauh dari ketulusan. Niatan jahat secara tidak sadar telah memberikan benang merah dan titik kelemahan dan aib dari mafia birokrasi itu sendiri.
Media kebencian justru akan menjadi bumerang membuka pintu bagi matinya mafia birokrasi. Cara-cara menabur benih kebencian dengan menyalahkan dan mencari cari kesalahan ini akan menjadi ajang peradilan sosial yang di era digital ini semakin nampak usang dan memamerkan betapa naif dan tumpulnya senjata mafia birokrasi.
Serangan-serangannya berupaya memberi label untuk mendapat legitimasi dan solidaritas. Segala sesuatu yang jahat (direkayasa dengan pendekatan dan demi kekuasaan, penguasaan dengan sarana uang) tidak akan lestari karena akan menumpulkan.
Sama saja dengan maling teriak maling dan menuding orang lain. Media kebencian ini bisa dari media konvensional, media sosial, lembaga institusi yang memiliki kewenangan pengawasan, perijinan, penggunaan sumber daya dan upaya paksa. Yang semua itu dikemas dalam sebuah kebijakan yang tidak bijaksana melainkan bijaksini karena krooni-kroninya saja yang diapresiasi dan boleh menikmati.[CDL-22042016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







