Ganjal.[Ist]
TRANSINDONESIA.CO – Siapapun takkan sudi jika hanya menjadi ganjel atau tambal butuh. Namun anyg lemah dan rentan selalu dikalahkan dan dijadikan ganjel serta untuk kalah-kalahan.
Siapa yang lemah dan dikalahkan? Dapat dipastikan yang tidak memiliki cantolan dan bukan krooni, mesti sabar dan ikhlas dikorbankan atau dijadikan ganjel. Tatkala kalah atau dikalahkan atas nama kepentingan pribadi atau kroni jangan sekali-kali komplain. Jangankan protes, bertanya sajapun akan disengatnya.
Kalau bukan siapa-siapa dan tidak punya siapa-siapa jangan terlalu tinggi bermimpi. Turunkan grade dan harapan, jadilah biasa-biasa saja serta hadapi dengan sabar, ikhlas dan tawakal. Itulah nasihat pelipur lara. Penghibur hati berduka agar tetap memiliki asa.
![Ganjal.[Ist]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/03/ganjal.jpg)
Dijadikan ganjel, tambal butuh memang sakit, kerja baik tidak dipuji, kalau salah dihukum setengah mati. Melihat ketidak adilan adalah sesuatu yang menyakitkan dan melukai hati, tapi apa daya. Berteriak takut disumpel, menulis tak akan dibaca, bercerita dilabel cengeng dengan macam-macam label untuk kaum ganjel.
Benar kata dalam buku Stupid Bos, walau tak pantas tetap dialah yang diagungkan. Tak perlu otak dan hati, yang penting disayang dan disukai ndoro maka akan selamatlah dan lancarlah semuanya.
Semua tinggal memerintah, marah semua sabda akan menjadi nyata. Yang bekerja atau mengerjakan memang kaum ganjel. Dipercaya, dijadikan cantrik sudah cukup bahagia. Berharap menjadi keset sekalipun oke, agar bisa menjadi orangnya siapa, dan terlepas dari karma bukan siapa-siapa, walau tetap saja jadi ganjel.[CDL-06032016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







