Indonesia Berdakwah

Netizen : Penggerus atau Penguat Kebangsaan

Ilustrasi

TRANSINDONESIA.CO – Aset utama dari suatu bangsa adalah sumber daya mausia yang menjadi warga negaranya (citizen). Kekuatan  dalam kehidupan sosial banyak diatur dan ditentukan dari kota.

Kota sebagai pusat politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pelayanan jasa, insdustri, selain itu juga merupakan jalur lintasan yang menjadi penghubung antar satu daerah dengan daerah lain.

Kekuatan-kekuatan ini akan mempangaruhi nilai-nilai kebangsaan dan karakter suatu bangsa bahkan untuk kekuatan dari suatu bangsa.

Tergerus atau hilangnya nilai-nilai kebangsaan dan karakter kebangsaan dari para citizen akan berpengaruh pada melemah atau hancurnya suatu bangsa.

Di era digital para citizenpun sebagian menjadi netizen (warga terhubung dalam dunia virtual yang tanpa batas ruang dan waktu), mereka bisa menjadi satu pada konteks kepentingan-kepentingan yang sama untuk membentuk suatu komunitas.

Ilustrasi
Ilustrasi

Komunitas-komunitas ini bisa menjadi penguat bisa juga menggerus atau merusak nilai-nilai kebangsaan maupun karakter bangsa. Isu-isu yang dibahas atau menjadi topik pada pembahasan para netizen akan menggulir bagai bola salju atau menjadi gear box yang akan menggerakan roda-roda kehidupan lainnya.

Tatkala isu-isu yang menjadi penguatan maka akan berdampak pula pada pemberdayaan dan menambah kekuatan bagi bangsa. Namun sebaliknya tatkala isu-isu yang menggerus atau merusak akan berdampak pula pada pelemahan atau perusakan karakter bangsa.

Netizen di era digital menjadi bagian penting dalam membangun suatu tatanan baru di dunia virtual. Cepat atau lambat netizen akan menguasai dan mendoninasi semua lini kehidupan aktual. Citizen akan beralih menjadi netizen, pola-pola manual konvensional akan ditinggalkan.

Tidak menutup kemungkinan terjadi benturan-benturan antara netizen dan citizen walau mereka-mereka juga yang menjadi bagian dari keduanya. Namun konflik-konflik dunia virtual akan berdampak luas dan hampir-hampir tidak dapat dibendung tatkala belum sampai puncaknya atau masih menyimpan bara-bara kebencian.[CDL-17022016]

Penulis: Chryshnanda Dwilaksana

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.