Tari Bali.(dok)
TRANSINDONESIA.CO – Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali menurun pada tahun 2015 yang mencapai 6,28 persen jika dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 6,72 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Dewi Setyowati di Denpasar, Jumat (1/1/2016), menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata itu didorong oleh penurunan ekspor dan impor serta daya beli masyarakat yang menurun pada sektor properti.
“Ekspor mengalami penurunan baik komoditas atau jasa. Untuk komoditas, ekspor utama kita dari Amerika Serikat dan Eropa yang saat ini sedang terjadi pelambatan ekonomi, sedang ada pemulihan itu yang menghantam ekspor kita,” katanya.

Selain itu, sektor impor juga mengalami penurunan yang juga berdampak terhadap industri pengolahan mengingat sejumlah komponen dalam industri tersebut masih didatangkan dari mancanegara.
“Dengan kondisi pelemahan rupiah kemudian harga barang produksi untuk keperluan industri pengolahan juga meningkat sehingga beberapa industri pengolahan melakukan penyesuaian,” ucapnya.
Dewi mencatat dua sektor tumbuh positif yakni sektor pertanian dan penyediaan akomodasi makanan dan minuman yang turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan keempat 2015.
Secara triwulanan, pada triwulan keempat 2015, pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 6,57 persen atau lebih tinggi dibandingkan triwulan ketiga yang mencapai 6,29 persen.
Menurut dia, pendongkrak pertumbuhan di triwulan terakhir tahun 2015 itu karena membaiknya sektor pertanian dengan adanya panen yang pada triwulan ketiga sempat terganggu karena pengaruh Elnino.
Selain itu, penyediaan akomodasi makan dan minuman, industri pengolahan, permintaan ekspor yang sedikit meningkat dan investasi untuk belanja fisik yang mencapai 80 persen turut menaikkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat.(Ant/Oki)







